~--~~~((( Selamat Datang di Blog Sari Wirya Netty )))~~~--~

Senin, 12 Oktober 2009

rooming in

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Rawat gabung merupakan satu cara perawatan di mana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar atau tempat bersama-sama selama 24 jam penuh dalam seharinya. Istilah rawat gabung parsial yang dulu banyak dianut, yaitu rawat gabung hanya dalam beberapa jam seharinya, misalnya hanya siang hari saja sementara pada malam hari bayi dirawat di kamar bayi, sekarang tidak dibenarkan dan tidak dipakai lagi. (Zikra, 2008).
Tujuan rawat gabung adalah agar ibu dapat menyusui bayinya sedini mungkin kapan saja dibutuhkan, ibu dapat melihat dan memahami cara perawatan bayi yang benar seperti yang dilakukan oleh petugas, ibu mempunyai pengalaman dalam merawat bayinya sendiri selagi ibu masih di rumah sakit dan yang lebih penting lagi, ibu memperoleh bekal keterampilan merawat bayi serta menjalankannya setelah pulang dari rumah sakit. Dalam perawatan gabung suami dan keluarga dapat dilibatkan secara aktif untuk mendukung dan membantu ibu dalam menyusui dan merawat bayinya secara baik dan benar, selain itu ibu akan mendapatkan kehangatan emosional karena ibu dapat selalu kontak dengan buah hati yang sangat dicintainya, demikian pula sebaliknya bayi dengan ibunya (Mappiwali, 2008)
Rooming in akan membantu memperlancar pemberian ASI. Karena dalam tubuh ibu menyusui ada hormon oksitosin. Hormon ini sangat berpengaruh pada keadaan emosi ibu. Jika Ibu tenang dan bahagia karena dapat mendekap bayinya, maka hormon ini akan meningkat dan ASI pun cepat keluar. Sehingga bayi lebih puas mendapatkan ASI. Manfaat lain dari perawatan rooming in bagi bayi akan lebih cepat menyesuaikan dengan waktu tidur dan bangun dengan ibu. Selain itu jika bayi menangis akan langsung didekap ibu sehingga bayi akan tenang mendengarkan detak jantung ibu (Lina, 2007).
Pentingnya ibu mengetahui rawat gabung agar terjalin kasih sayang antara ibu dan anaknya serta ibu tahu bagaimana cara perawatan bayi yang baik dan benar. Adanya rawat gabung sangat menguntungkan bagi ibu karena dapat menurunkan angka kesakitan pada bayi seperti ibu dapat memberi ASI esklusif kepada bayinya yang dapat memberikan sistem kekebalan tubuh pada bayi (Danuatmadja, 2003).
Rooming in juga akan membantu menurunkan angka kematian ibu, dengan dilakukannya rooming in akan menurunkan terjadinya perdarahan post partum yaitu dengan cara ibu memberikan ASI esklusif. Perdarahan post partum adalah salah satu penyebab AKI (Mappiwali, 2008).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, tiap tahunnya sekitar 500.000 perempuan meninggal karena perdarahan saat postpartum. Sedangkan di Indonesia, dari data BPS (Badan Pusat Statistik) angka kematian ibu yang di sebabkan oleh perdarahan postpartum sebesar 262 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2005. Depkes menargetkan pada tahun 2009 AKI menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup (Mappiwali, 2008).
Pada Rumah Sakit Sanglah Denpasar, menyimpulkan bahwa rawat gabung didaerah pedesaan 80 persen ibu yang melahirkan segera melakukan rawat gabung dirumahnya masing-masing. Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan adanya rawat gabung sangat menguntungkan karena terdapat penurunan angka morbiditas dan mortalitas bayi, serta penghematan bagi keluarga dan rumah sakit akibat berkurangnya lama perawatan bayi baru lahir, pembelian susu formula dan pembelian cairan infus (Soetjiningsih, 2000).
Pada tahun 2005 AKI yang disebabkan oleh perdarahan postpartum di Pekanbaru berjumlah 11 per 19.657 persalinan hidup, sedangkan pada tahun 2006 AKI meningkat menjadi 17 per 20.210 persalinan hidup. Ini menunjukkan derajat kesehatan ibu masih memerlukan perhatian dan penanganan yang lebih baik (Profil Dinkes, 2006).
Berdasarkan survey yang telah dilakukan oleh peneliti di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru didapatkan data ibu nifas yang melakukan rooming in pada tahun 2008 yaitu berjumlah 3.088 orang. Berdasarkan paparan diatas maka peneliti tertarik untuk mengambil judul “Tingkat Pengetahuan Ibu Postpartum Tentang Roomong In di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah yaitu “Bagaimana tingkat pengetahuan ibu postpartum tentang rooming in di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009?”

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu post partum tentang rooming in di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu post partum tentang pengertian rooming in.
b. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu post partum tentang keuntungan rooming in.
c. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu post partum tentang tujuan rooming in.



1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi peneliti
Untuk mendapatkan pengalaman meneliti dan menambah wawasan pengetahuan serta mengaplikasikan pengetahuan yang didapat selama perkuliahan di lahan penelitian.
1.4.2 Bagi institusi pendidikan
Sebagai masukan yang dapat menjadi perbandingan dan informasi bagi penelitian dimasa yang akan datang.
1.4.3 Bagi tempat penelitian
Sebagai masukan dalam meningkatkan dan menjalankan program pelayanan asuhan sayang ibu khususnya rooming in atau rawat gabung pada lembaga kesehatan.
1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagi peneliti selanjutnya terutama tentang rooming in.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.1 Konsep Dasar Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Namun sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan ini akan berpengaruh pada prilaku seseorang (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan atau kognitif merupakan dokumen yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa prilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada prilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan mempunyai 6 tingkatan yaitu :
a. Tahu (Know)
Diartikan sebagai mengingat kembali terhadap sesuatu dari seluruh bahan yang sudah dipelajari, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

b. Memahami (Komprehension)
Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, memberikan contoh, mengamalkan dan sebagainya.
c. Aplikasi (Aplication)
Mampu menggunakan atau melaksanakan tentang apa yang telah dipelajari pada suatu kondisi yang realita.
d. Analisis (Analysis)
Kemampuan untuk mendapatkan suatu kebenaran dimana untuk mendapatkan kebenaran ini merupakan suatu proses terakhir dalam rentetan tugas penelitian.
e. Sintesis (Synthesis)
Merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi (Evaluation)
Kemampuan untuk memberikan sesuatu penilaian terhadap materi yang berdasarkan kriteria-kriteria tertentu.

2.1.2 Konsep Dasar Postpartum
Masa post partum adalah masa yang dimulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Prawirohardjo, 2006).
Menurut Manuaba (2007), Post Partum (puerperium) adalah masa pulih kembali, dimulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil.

2.1.3 Konsep Dasar Rooming In
a. Pengertian Rooming In
Rooming in sering juga disebut dengan rawat gabung yaitu menyatukan antara ibu dan bayinya dalam satu kamar, agar antara ibu dan bayinya terjalin suatu hubungan bathin dan ibu bisa menjadi lebih dekat dengan bayinya (Pusdiknakes, 2000).
Sedangkan pengertian rooming in menurut Soetjiningsih (2000) adalah system perawatan ibu dan anak bersama – sama atau pada tempat yang berdekatan sehingga memungkinkan sewaktu-sewaktu, setiap saat ibu tersebut dapat menyusui anaknya.
Bayi yang lahir di rumah dan juga yang lahir di lembaga kesehatan hendaknya dijaga agar tetap berada bersama ibunya selama 24 jam sehari, sebaiknya ditempat tidur yang sama, diruangan yang hangat (sedikitnya bersuhu 25˚C). Bila ibu dan bayi berada bersama-sama, maka akan lebih mudah menjaga agar bayi tetap hangat dan juga untuk menyusuinya atas permintaan. Pada lembaga kesehatan, rooming in atau rawat gabung dan sering disebut juga dengan penyatu kamaran membatasi agar bayi tidak terkena infeksi yang ditularkan dalam rumah sakit. Dalam pelaksanaannya bayi harus selalu dekat ibunya semenjak dilahirkan sampai saatnya pulang karena ini bukanlah hal yang baru lagi (Prawirohardjo, 2006).
b. Keuntungan Rooming In
Rooming in atau rawat gabung juga memiliki keuntungan menurut soetjiningsih (2000) diantarnya yaitu :
1) Bayi dapat terjaga keamanannya
Jika bayi bersama ibunya maka akan terjaga keamanannya seperti jika ada nyamuk ataupun lalat yang dapat mengganggu bayi tersebut.
2) Menggalakkan pemakaian ASI
Penyusuan harus dimulai sesegera mungkin setelah bayi lahir, sebaiknya dalam jam pertama juga. Penyediaan air susu ibu sepagi mungkin dan sebanyak mungkin adalah sangat penting untuk memberikan bayi kalori agar supaya ia dapat menghasilkan panas tubuh. Air susu yang keluar pertama yang sering disebut dengan colostrum, banyak mengandung gizi dan anti bodi, hanya itu gizi dan cairan yang dibutuhkan oleh bayi. Dalam jam-jam dan hari-hari setelah kelahiran bayi penting agar bayi bisa menyusu kepada ibunya sepanjang yang diinginkannya,baik siang maupun malam. Hal ini akan merangsang produksi susu dan menyediakan kalori yang cukup untuk bayi tersebut untuk menghasilkan panas tubuh dan juga untuk pertumbuhannya. Ibu harus mendapatkan dorongan, dukungan dan bantuan untuk penyusuan ini dari para petugas kesehatan ataupun keluarga.
3) Kontak dari kulit ke kulit atau kontak emosi ibu dan anak lebih dini.
Persinggungan antara kulit dengan kulit merupakan suatu cara yang efektif untuk mencegah kehilangan panas pada bayi baru lahir, apakah itu bayi cukup bulan atau bayi premature. Dada atau bagian perut ibu merupakan permukaan yang ideal untuk meletakkan bayi baru lahir tersebut karena bersih dan suhunya pas. Persinggungan kulit ke kulit bisa juga dipakai pada malam hari yang mana suhu pada malam hari yang dingin untuk memanaskan bayi kembali.
4) Bayi akan merasa nyaman bersama ibunya
Jika bayi selalu bersama ibunya ia akan merasa nyaman karena tidak ada yang menggagunya dan jika ia lapar ataupun haus ibunya sudah ada disampingnya yang selalu menemaninya.
5) Suhu tubuh bayi akan terjaga
Pada saat bayi menyusui dan berada didekat ibunya selain ia merasa nyaman suhu tubuhnya juga akan terjaga karena sang ibu selalu dekat dengannya. Jika bayi merasa kedinginan maka ibunya akan selalu berusaha menghangatkannya.
6) Dapat mengurangi infeksi silang dan infeksi nosokomial.
Bayi yang lahir di rumah sakit ataupun pada lembaga kesehatan yang lainnya seperti praktek swasta jika bayi terpisah dari ruangan ibunya maka ia akan rawan terkena infeksi dalam rumah sakit tersebut sedangkan jika ia berada dalam satu ruangan bersama ibunya maka infeksi tersebut dapat dicegah ataupun dapat berkurang.
7) Dapat mengurangi beban perawatan terutama dalam pengawasan sehingga tenaga kesehatan bisa mengerjakan yang lainnya.
8) Dapat tukar pengalaman dengan ibu-ibu yang lainnya, termasuk juga dapat menimbulkan motivasi penggunaan KB.
9) Mengurangi ketergantungan ibu ibu pada tenaga kesehatan dan membangkitkan kepercayaan diri yang lebih besar dalam perawatan bayi.

c. Tujuan Rooming In
Tujuan dari rooming in adalah untuk mendekatkan ibu kepada bayinya, mengajarkan ibu bagaimana cara menyusui bayi dengan baik dan benar. Selain dari pada tujuan dari rooming in adalah sebagai berikut menurut Soetjiningsih (2000) :
1) Bantuan emosional
Setelah menunggu selama sembilan bulan dan setelah lelah dalam proses persalinan si ibu akan sangat senang dan bahagia bila dekat dengan bayinya. Si ibu dapat membelai-belai bayi, mendengar tangisnya serta memperhatikannya disaat buah hatinya tidur. Hubungan ibu dan bayi ini sangat penting ditumbuhkan pada saat-saat awal dan bayi akan memperoleh kehangatan tubuh ibu, suara ibu, kelembutan dan kasih sayangnya.
2) Penggunaan ASI
Dari segala sudut pertimbangan maka ASI adalah makanan terbaik bagi bayi dan produksi ASI akan makin cepat dan makin banyak bila menyusui dilakukan sesegera dan sesering mungkin. Pada hari-hari pertama yang keluar adalah kolostrum yang jumlahnya sedikit. Tetapi hal itu tak perlu dikhawatirkan karena kebutuhan bayi masih sedikit.
3) Pencegahan infeksi
Pada perawatan bayi yang terpisah maka kejadian infeksi silang akan sulit dicegah. Dengan melakukan rawat gabung maka infeksi silang dapat dihindari. Kolostrum yang mengandung antibodi dalam jumlah tinggi, akan melapisi seluruh permukaan mukosa dari saluran pencernaan bayi dan diserap oleh bayi sehingga bayi akan mempunyai kekebalan yang tinggi. Kekebalan ini akan mencegah infeksi terutama terhadap diare.
4) Pendidikan kesehatan
Pada saat melaksanakan rawat gabung dapat dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu, terutama primipara. Bagaimana teknik menyusui, memandikan bayi, merawat tali pusat, perawatan payudara dan nasihat makan yang baik, merupakan bahan-bahan yang diperlukan si ibu. Keinginan ibu untuk bangun dari tempat tidur, menggendong bayi dan merawat diri akan mempercepat mobilisasi, sehingga si ibu akan lebih cepat pulih dari persalinan.



2.2 Kerangka konsep
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan. ( Notoatmodjo, 2005)







Keterangan :

Yang diteliti

Dimensi tingkat pengetahuan ibu post partum tentang rooming in yang diteliti

Gambar 2.1 Kerangka Konsep








BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian adalah kuantitatif yaitu suatu proses penelitian mulai dari merumuskan permasalahan hingga mengambil kesimpulan. Sedangkan rancangan penelitian ini bersifat deskriptif yaitu untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau fenomena (Prasetyo, 2005).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di ruangan camar I RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009.
3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 8-16 Juni 2009.

3.3 Populasi, Sampel dan Sampling
3.3.1 Populasi
Populasi adalah himpunan atau kumpulan dari semua objek yang akan diteliti (Zanbar, 2005). Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu post partum di ruangan camar I RSUD Arifin Achmad Pekanbaru dengan rata-rata kunjungan perbulan 210 orang.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah himpunan bagian dari populasi (Zanbar, 2005). Sampel dalam penelitian ini adalah sampel minimal yang berjumlah 30 orang, dengan kriteria pengambilan sampel yaitu kriteria inklusi :
a. Ibu postpartum yang ada di ruangan camar I RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
b. Ibu yang bersedia menjadi responden.
c. Ibu yang bisa membaca dan menulis.
Kriteria eksklusi :
d. Ibu postpartum yang tidak ada di ruangan camar I RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
e. Ibu yang tidak bersedia menjadi responden.
f. Ibu yang tidak bisa membaca dan menulis.

3.3.3 Sampling
Sampling adalah cara mengumpulkan data dimana yang diselidiki adalah elemen sampel dari suatu populasi (Zanbar, 2005). Metode dalam penelitian ini adalah Accidental sampling. Accidental sampling adalah cara pengambilan sampel secara kebetulan ada pada tempat penelitian tersebut.
3.4 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan ibu post partum tentang rooming in dengan sub variabelnya pengertian rooming in, keuntungan rooming in dan tujuan rooming in.

3.5 Defenisi Operasional
Tabel 3.1
Defenisi Operasional

Variabel Sub Variabel Defenisi Operasional Hasil Pengukuran Skala Alat ukur
Tingkat pengetahuan ibu postpartum tentang rooming in Segala sesuatu hal yang diketahui ibu postpartum tentang rooming in Baik >75%
Cukup 56%-75%
Kurang <55% Ordinal Kuesioner


Pengertian
rooming in Segala sesuatu yang diketahui ibu tentang pengertian rooming in


Keuntungan
rooming in Segala sesuatu yang diketahui ibu tentang keuntungan rooming in


Tujuan
rooming in Segala sesuatu yang diketahui ibu tentang tujuan rooming in





3.6 Instrumen Penelitian
Alat ukur untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner yang berisikan pertanyaan, kuesioner ini disusun sendiri oleh peneliti dan dibuat sesederhana mungkin agar mudah dipahami dengan jumlah pertanyaan 20 buah.
Tabel 3.2
Kisi-kisi Kuesioner

No Kisi-kisi Unfavorable Favorable Jumlah
1. Pengertian rooming in - 1 - 3 3
2. Keuntungan rooming in - 4 - 13 10
3. Tujua rooming in - 14 - 20 7

3.7 Jalannya Penelitian
3.7.1 Tahap persiapan
Pada tahap persiapan ini dimulai dengan mengajukan judul, survei lokasi dan dilanjutkan dengan studi pendahuluan pada tempat yang akan diteliti, kemudian melakukan tinjauan pustaka, bimbinga proposal, ACC proposal, seminar proposal, perbaikan proposal dan mengurus surat-surat izin penelitian.
3.7.2 Tahap pelaksanaan
a. Membagikan kuesioner kepada responden yang berada di ruangan camar I RSUD Arifin Achmad Pekanbaru pada bulan Juni tahun 2009.
b. Mengolah data dan menganalisa data yang telah didapat.
3.7.3 Tahap penyelesaian
Menyusun Karya Tulis Ilmiah, seminar hasil penelitian, dilanjutkan dengan perbaikan dan pengumpulan laporan Karya Tulis Ilmiah.

3.8 Metode Pengumpulan Data
Sumber data yang yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data Primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden, sedangkan data sekunder yaitu dengan melakukan studi perpustakaan berupa menelaah buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, serta pengambilan data dari RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.

3.9 Pengolahan Data
Data yang telah dikumpulkan dalam tahap pengumpulan data, perlu diolah dahulu. Dalam penelitian ini peneliti melakukan pengolahan data dengan langkah sebagai berikut (Sugiono, 2005):
3.8.1 Penyuntingan Data (Editing)
Editing (pengecekan kelengkapan data) yaitu memeriksa data terlebih dahulu meliputi pengecekan data yang telah dikumpulkan. bila terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam pengumpulan data dapat diperbaiki dan dapat dilakukan pendataan ulang.
3.8.2 Pengkodean Data (Coding)
Coding adalah pemberian kode jawaban dengan angka atau dengan kode lain seperti simbol-simbol tertentu untuk setiap jawaban.


3.8.3 Tabulasi Data (Tabulating)
Tabulasi data adalah untuk menyusun dan menghitung data yang diperoleh. Setelah data diolah kemudian disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi.

3.10 Tehnik Analisa Data
Menurut Arikunto (2006) dalam analisa data peneliti menggunakan analisis univariat yaitu analisis data yang digunakan untuk melihat hasil perhitungan frekuensi dan presentase dari peneliti yang nantinya akan digunakan sebagai tolak ukur untuk membahas kesimpulan. Setelah data diolah, penulis akan menganalisis data tersebut untuk menggambarkan frekuensi dan presentasenya.
Menurut Notoatmodjo (2005), jawaban untuk semua item pertanyaan dari seluruh responden dengan menggunakan rumus sebagai berikut :



Keterangan :
P = Persentase
F = Jumlah jawaban yang benar
N = Jumlah soal
Setelah didapatkan kriteria masing-masing responden, maka untuk mengetahui pengetahuan responden secara keseluruhan dimasukkan ke dalam rumus :

Responden dengan kriteria (B/C/K)
P = x 100%
Σ Responden
Keterangan :
P : Pengetahuan
Σ : Jumlah
B : Baik
C : Cukup
K : Kurang

3.11 Kesulitan Dan Keterbatasan
a. Kesulitan Penelitian
Selama melaksanakan penelitian, peneliti mengalami beberapa kesulitan diantaranya yaitu kesulitan dalam mengambil data ke Rumah Sakit dalam memenuhi pihak Rumah Sakit yang berwenang memegang dan memberikan data sehingga harus menunggu waktu yang lama.
a. Keterbatasan Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti mengalami beberapa keterbatasan yaitu kurangnya pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam membuat penelitian, serta kepustakaan yang kurang terutama tentang rooming in, sehingga Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan.




















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Peneitian
4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di ruangan camar I RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tipe B. RSUD Arifin Achmad juga sebagai Rumah Sakit rujukan dan Rumah Sakit pendidikan, Rumah Sakit ini terletak dipusat kota di Jalan Hang Tuah, sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Gajah Mada, sebelah Utara berbatasan dengan Jalan Diponegoro, sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Hang Tuah dan sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Sudirman.
4.1.2 Karakteristik Responden
a. Pendidikan
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan di Ruangan Camar I RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009

No Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
1.
2.
3.
4. SD
SMP
SMU
Perguruan Tinggi 6
3
18
3 20
10
60
10
Jumlah 30 100
Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner Tahun 2009

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa sebagian besar berpendidikan SMU yaitu 18 responden (60%).
b. Umur
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di Ruangan Camar I RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009

No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.
2.
3. <20 tahun
20-35 tahun
>35 tahun 1
23
6 3,3
76,7
20
Jumlah 30 100
Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner Tahun 2009

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa sebagian besar berumur 20-35 tahun yaitu 23 responden (76,7%).
4.1.3 Pengetahuan
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang Pengertian Rooming In di Ruangan Camar I RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009

No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.
2.
3. Baik
Cukup
Kurang 20
3
7 66,7
10
23
Jumlah 30 100
Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner Tahun 2009

Berdasarkan tabel 4.3 bahwa sebagian besar pengetahuan responden tentang pengertian rooming in yaitu baik 20 responden (66,7%).





Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang Keuntungan Rooming In di Ruangan Camar I RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009

No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.
2.
3. Baik
Cukup
Kurang 29
0
1 96,7
0
3,3
Jumlah 30 100
Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner Tahun 2009

Berdasarkan tabel 4.4 bahwa sebagian besar pengetahuan responden tentang keuntungan rooming in yaitu baik 29 responden (96,7%).
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang Tujuan Rooming In di Ruangan Camar I RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009

No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.
2.
3. Baik
Cukup
Kurang 20
9
1 66,7
30
3,3
Jumlah 30 100
Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner Tahun 2009

Berdasarkan tabel 4.5 bahwa sebagian besar pengetahuan responden tentang tujuan rooming in yaitu baik 20 responden (66,7%).





Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang Rooming In di Ruangan Camar I RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009

No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.
2.
3. Baik
Cukup
Kurang 24
5
1 80
16,7
3,3
Jumlah 30 100
Sumber : Hasil Pengolahan Data Kuesioner Tahun 2009

Berdasarkan tabel 4.6 bahwa secara keseluruhan pengetahuan responden tentang rooming in yaitu baik 24 responden (80%),dan kategori kurang 1 responden (3,3%).

4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa gambaran pengetahuan ibu postpartum tentang rooming in sebagian besar baik yaitu sebanyak 24 responden (80%) dari 30 responden. Menurut pendapat peneliti hal ini berkaitan dengan pendidikan terakhir responden sebagian besar adalah SMU yaitu 18 responden (60%), dan perguruan tinggi yaitu 3 responden (10%). Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Machfoedz (2005) yang menyatakan bahwa makna pendidikan yang mencakup semua perkembangan bagi kemampuan dan kesiapan seseorang lalu menyerahkannya pada arah yang benar.
Peneliti berpendapat bahwa pendidikan mempunyai peranan yang penting dalam pengetahuan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2003) yang menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi pula tingkat intelektualnya dan semakin tinggi pendidikan maka semakin besar kemampuan untuk menyerap dan menerima informasi yang diberikan.
Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Zanbar (2003), menyatakan bahwa pengetahuan seseorang dapat diperoleh melalui pendidikan formal dan informal, dimana pengetahuan formal didapat dari pendidikan misalnya dari jenjang pendidikan dan pengetahuan.
Berdasarkan asumsi peneliti, selain pendidikan responden tentang rooming in kemungkinan usia juga berperan dalam melihat tingkat pengetahuan responden dimana sebagian besar umur responden berada pada kategori dewasa (20-35 tahun) sebanyak 23 orang (76,7%). Sebagaimana yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2003), bahwa semakin bertambahnya usia seseorang semakin meningkat pula kedewasaan orang tersebut, kedewasaan sangat dipengaruhi oleh proses belajar karena semakin banyak memperoleh informasi tertentu, sehingga akan dapat menambah atau meningkatkan wawasan atau pengetahuan seseorang tersebut menerima informasi dan semakin bagus pengetahuan yang dimiliki.
Menurut Leonard (2009), tahap perkembangan pemikiran manusia sangat berbeda-beda, usia 6-12 tahun pengetahuannya masih sebatas bermain dan belum bisa berfikir dewasa, usia 12-15 tahun pengetahuannya mulai berkembang namun belum bisa berfikir dewasa, 15-18 tahun pengetahuan manusia berkembang menjadi lebih dewasa sehingga pengetahuannya baik, usia 18-35 tahun manusia lebih dewasa dan cara berfikirnya lebih matang, usia >35 tahun daya berfikir seseorang mulai melemah serta tingkat pengetahuannya mulai berkurang.





















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan responden tentang rooming in di ruangan camar I RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009 yaitu berpengetahuan baik 24 responden (80%), berpengetahuan cukup 5 responden (16,7%), dan berpengetahuan kurang 1 responden (3,3%).

5.2 Saran
5.2.1 Bagi peneliti selanjutnya
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan dapat dijadikan bahan perbandingan untuk peneliti selanjutnya.
5.2.2 Bagi institusi pendidikan
Diharapkan bagi institusi pendidikan agar menambah buku referensi tentang rooming in dan metodelogi penelitian sehingga dapat dipergunakan oleh mahasiswa sebagai bahan bacaan untuk menambah ilmu pengetahuan, sehingga mahasiswa dapat memberikan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan siswi tentang rooming in.

5.2.3 Bagi lahan penelitian
Petugas kesehatan yang berada di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru agar dapat meningkatkan lagi penyuluhan dan pendekatan serta motivasi kepada ibu postpartum agar dapat mempertahankan dan lebih meningkatkan pemahamannya terhadap pentingnya rooming in. Sehingga keadaan yang sudah baik dapat terus ditingkatkan.

appendik

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Visi Indonesia sehat 2020 yang diikuti visi Riau sehat 2010 yang pada hakekatnya adalah untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang sehat di seluruh lapisan masyarakat merupakan titik tolak di galakannya berbagai upaya kesehatan (Nursalam, 2004).
Seiring dengan kemajuan teknologi dan peningkatan status sosial ekonomi yang semakin meningkat, masalah kesehatan juga muncul dimasyarakat yang disebabkan kurangnya pengetahuan terutama tentang pola hidup yang tidak sehat sehingga menyebabkan penyakit dari saluran pencernaan yang salah satunya adalah appendiksitis (Nursalam, 2004). Appendiksitis atau radang usus buntu adalah merupakan suatu keradangan pada daerah umbai cacing di saluran pencernaan (Juwardhono, 2004).
Dampak yang terjadi akibat dari appendiksitis adalah gangguan terhadap seseorang, dimana gangguan itu muncul diawali dengan berbagai gejala yang mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari seperti nyeri dengan tiba-tiba didaerah abdomen dan ulu hati, bila dibiarkan terus menerus appendiksitis dapat terjadi obstruksi lumen usus, (Juwardhono, 2004). Jika Appendiksitis tidak dilakukan penanganan segera akan terjadinya infeksi berat, bisa menyebabkan pecahnya lumen usus sehingga memerlukan penanganan yang khusus yaitu Laparatomi (Waspadji, dkk, 2001).
Appendiksitis merupakan kasus gawat bedah abdomen yang paling sering terjadi. Kejadian paling tinggi ditemukan pada usia dekade kedua dan ketiga, appendiksitis didapatkan 1,3 – 1,6 kali lebih sering pada laki-laki dari pada wanita (Waspadji, dkk, 2001). Penyebab appendiksitis yaitu berupa fekalit, cacing ascariasis, dan hyperplasia jaringan limfe (Choliq, 2008).
Prevalensi di Inggris, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Douglas et al terdapat 302 pasien yang terkena suspek appendiksitis setelah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi. Dan untuk mengatasi appendiksitis tersebut telah dilakukan apendiktomi dengan angka kegagalan sekitar 9 – 11%, dan 89% berhasil untuk mengatasi apendiksitis. Dan penelitian lain yang dilakukan oleh Zielke et al, sekitar 2000 pasien mengatakan,bahwa sekitar 6% ultrasonografi mendetaksi appendiksitis (Erita, 2004).
Berdasarkan survey yang telah dilakukan peneliti dari 10 besar penyakit yang terdapat di Poli Bedah RSUD Arifin Achmad Pekanbaru didapatkan pasien yang menderita penyakit appediksitis pada tahun 2006 berjumlah 260 orang (31,43%), pada tahun 2007 pasien yang menderita penyakit appendiksitis meningkat lagi menjadi 305 orang (31,44%). Sedangkan pada tahun 2008 didapatkan pasien yang menderita penyakit appendiksitis dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1.1
10 Penyakit Terbesar di Poli Bedah
RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru Tahun 2008

No Penyakit Jumlah Persentase
1 Appendiksitis 330 30,55%
2 Hernia 142 13,14%
3 Hernia inguinal 110 10,18%
4 Neoplasma jinak payudara 101 8,33%
5 Neoplasma jinak kulit 90 8,33%
6 Hemorroid 78 7,22%
7 Neoplasma ganas payudara 67 6,20%
8 Hernia lainnya 60 5,55%
9 Penyakit gondok 59 5,46%
10 FAM 43 3,98%
Jumlah 1080 100%
Sumber : RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru
Berdasarkan berdasarkan tabel diatas masih tingginya angka kejadian penyakit appendiksitis dan merupakan penyakit urutan pertama dibandingkan dengan penyakit lainnya yang ada di poli bedah RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, maka peneliti tertarik untuk meneliti apa faktor penyebab terjadinya appendiksitis di poli bedah RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik mengambil judul “Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Appendiksitis di Poli Bedah RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2008”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti permasalahan tentang “Faktor-Faktor Apa Saja Yang Menjadi Penyebab Terjadinya Appendiksitis di Poli Bedah RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2008?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan faktor-faktor penyebab terjadinya appendiksitis di Poli Bedah RSUD Arifin Achmad Pekanbaru 2008.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui distribusi frekuensi faktor-faktor penyebab terjadinya appendisitis yang disebabkan oleh fekalit.
2. Untuk mengetahui distribusi frekuensi faktor-faktor penyebab terjadinya appendisitis yang disebabkan oleh ascariasis.
3. Untuk mengetahui distribusi frekuensi faktor-faktor penyebab terjadinya appendisitis yang disebabkan oleh hyperplasia jaringan limfe.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi peneliti
Memberikan pengalaman nyata dan mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh diperkuliahan terutama tentang penelitian.
1.4.2 Bagi institusi pendidikan
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa AKBID / AKPER Dharma Husada Pekanbaru, dan untuk penelitian selanjutnya yang ada kaitannya dengan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
1.4.3 Bagi instansi kesehatan
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi bagi RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Appendiksitis
2.1.1 Pengertian Appendiksitis
Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (4 inci), melekat pada sekum tepat dibawah katup ileosekal. Appendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur kedalam sekum. Karena pengosongan tidak efektif, dan lumennya kecil, appendiks cenderung menjadi tersumbat dan terutama rentan terhadap infeksi (appendiksitis) (Smeltzer, 2002).
Appendiksitis adalah peradangan yang terjadi pada appendiks yang timbul secara mendadak (Anita,2008).
2.1.2 Penyebab Appendiksitis
1. Fekalit
Fekalit yaitu tinja atau feces yang keras mengapur. Adanya fekalit dalam lumen appendiks karena penyumbatan feces, lumen melebar dan mengadakan perangsangan terhadap pembuluh darah (Choliq, 2008).
Tinja atau feces yang mengeras dalam waktu lama sangat mungkin ada bagiannya yang terselip masuk kesaluran appendiks yang pada akhirnya menjadi media kuman/bakteri bersarang dan berkembang biak sebagai infeksi yang menimbulkan appendiksitis (Khomsah, 2008).
2. Ascariasis
Ascariasis yaitu penyakit yang disebabkan oleh cacing gelang. Cacing yang beternak diusus besar kemudian tersasar memasuki appendiks maka dapat menimbulkan appendiksitis (Khomsah, 2008).
3. Hyperplasia Jaringan Limfe
Hyperplasia jaringan limfe yaitu pembesaran jaringan limfe. Jika jaringan limfe membesar maka akan menekan appendiks dan akan menyebabkan appendiksitis (Choliq, 2008).
2.1.3 Klasifikasi Appendiksitis
1. Appendiksitis akut yaitu peradangan yang terjadi pada appendiks secara mendadak dan meluas melalui peritoneum parietal sehingga timbul rasa sakit yang mendadak.
2. Appendiksitis infiltra peradangan appendiks yang melekat pada dinding perut.
3. Appendiksitis kronis yaitu peradangan appendiks yang terjadi secara menahun yang merupakan kelanjutan appendiksitis infiltrat yang tidak mendapat pengobatan dan perawatan intensif sehingga gejalanya menghilang dan suatu saat akan timbul lagi gejala tersebut.
4. Appendiksitis abses yaitu kelanjutan dari appendiksitis kronis yang kurang perawatan dan kuman cukup ganas sehingga menimbulkan abses (Choliq, 2008).
2.1.4 Gambaran klinis
Pada kasus apendisitis yang klasik gejala- gejala permulaan adalah
1. Nyeri atau perasaan tidak enak sekitar umbilikus
2. Anoreksia yaitu hilangnya selera makan.
3. Mual.
4. Muntah
Gejala-gejala ini umumnya berlangsung lebih dari satu atau dua hari. Dalam beberapa jam nyeri bergeser ke kuadran kanan bawah dan mungkin mendapat nyeri tekan sekitar titik Mc burney. Kemudian dapat timbul spasme otot dan nyeri lepas, biasanya ditemukan demam ringan dan leukositosis moderat. Bila dapat ruptura apendiks terjadi, nyeri seringkali hilang secara dramatis untuk sementara (Waspadji, dkk, 2001).
Sedangkan menurut Erita (2004), gambaran klinis yang bisanya muncul adalah :
1. Nyeri tumpul dan samar disekitar pusar biasanya disertai mual dan tidak mau makan.
2. Suhu meningkat sekitar 37,5 - 38,50C, 2) Beberapa jam kemudian nyeri pindah ke perut bagian kanan bawah (sekitar garis yang menghubungkan tonjolan tulang pinggang dengan pusar) yang dikenal dengan titik Mc. Burney. Nyerinya lebih jelas dan tajam sehingga dapat mempengaruhi aktivitasnya misalnya kalau jalan sambil memegang perutnya dan agak membungkuk menahan sakit
3. Nyeri tekan didaerah mc. Burney
4. Nyeri lepas (bila ditekan dan kemudian dilepas tekanan itu , terasa nyeri)
5. Nyeri perut kanan bawah bila penderita bernafas dalam, berjalan, batuk oleh karena gerakan dari peritoneum, dan sembelit.
Gambaran yang mencurigakan apendisitis akut adalah:
1. Apendiks yang tidak dapat divisualisasi
2. Apendiks terisi kontras sebagian
3. Gambaran defek pada sekum akibat penekanan dari luar
4. Pada fluroskopi sekum dan ileum terminal tampak irritable.
Beberapa keadaan yang memiliki gambaran klinis menyerupai apendisitis akut adalah :
1. Gastroenteritis akut
2. Limfadenitis mesenterik pada anak
3. Mittelscmerz (nyeri akibat ruptura•folikel ovarium waktu ovulasi)
4. Peradangan divertikulum meckel fetus yang terbentang dari ileum ke umbulikus
5. Enteritis regional
2.1.5 Pencegahan
Kita bisa melakukan pencegahan dengan makanan yang berserat agar fesesnya tidak keras, Pemberian obat cacing teratur tiap 6 bulan Menjaga kebersihan makanan agar tidak banyak mengandung parasit (Depkes RI, 2001).
Sedangkan menurut Waspadji dkk, (2001), Mengenai pencegahan, tentunya yang paling penting adalah menjaga agar tidak terjadi pengerasan sisa makanan dalam usus ataupun tidak memakan makanan yang sulit dicerna dan berpotensi menjadi cikal bakal dari penyumbatan tadi. Diet tinggi serat, dalam hal ini kaya akan sayuran dan buah-buahan) akan sangat membantu melancarkan aliran pergerakan makanan dalam saluran cerna sehingga tidak tertumpuk lama dan mengeras. Di samping itu, meminum cukup air putih dan tidak menunda buang air besar juga akan membantu kelancaran pergerakan saluran cerna secara keseluruhan.




2.2 Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah suatu yang abstrak, logika, secara teliti, secara arti harfiah akan membantu peneliti dalam menghubungkan hasil penemuan dengan ilmu pengetahuan. Kerangka konsep merupakan teori yang bisa diukur yang telah dikembangkan keperawatan atau disiplin ilmu lain (Nursalam, 2001).
Variabel




Sub variabel





Gambar 2.1 Kerangaka Konsep


Keterangan :

: Yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti

: Dimensi variabel yang diteliti





BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian adalah kuantitatif yaitu suatu proses penelitian mulai dari merumuskan permasalahan hingga mengambil kesimpulan (Prasetyo, 2005). Sedangkan rancangan penelitian ini bersifat deskriptif yaitu untuk melihat faktor penyebab terjadinya appendiksitis di poli bedah RSUD Arifin Achmad Pekanbaru (Prasetyo, 2005).

3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di poli bedah RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan mulai dari pengajuan judul pada bulan Januari dan selesi pada bulan Juli 2009.

3.3 Populasi, Sampel dan Sampling Penelitian
3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh status pasien yang terkena appendiksitis yang didapat dari medical record di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru tahun 2008 berjumlah 330 orang.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Zanbar, 2005). Dengan menggunakan rumus :
N
n =
1 + N (d²)

330
n =
1 + 330 (0,1²)

330
n =
4,3

n = 76

Keterangan :

N : Besar populasi
n : Besar sampel
d : Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan (0,1)
(Notoatmodjo, 2005)
3.3.3 Sampling
Sampling adalah mengambil sampel penelitian ini digunakan dengan cara atau teknik-teknik tertentu, sehingga sampel tersebut sedapat mungkin mewakili populasinya. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu dengan metode Quota sampling yaitu pertama-tama menetapkan berapa besar jumlah sampel yang diperlukan atau menetapkan quotum (jatah),kemudian jumlah atau quotum itulah yang dijadikan dasar untuk mengambil unit sampel yang diperlukan (Notoatmodjo, 2005).

3.4 Variabel Penelitian
Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain. (Notoatmodjo, 2005)
3.4.1 Variabel : Faktor penyebab terjadinya appendiksitis.
3.4.2 Sub variabel :
1. Fekalit
2. Ascariasis
3. Hyperplasia jaringan limfe








3.5 Defenisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel Penelitian Defenisi Operasional Alat ukur Skala
Faktor-faktor penyebab terjadinya appendiksitis :

a. Fekalit


b. Ascariasis


c. Hyperplasia jaringan limfe Hal-hal yang menyebabkan terjadinya appendiksitis.



Tinja yang mengeras.


Suatu penyakit yang disebabkan oleh cacing.

Pembesaran limfe. Daftar Checklist



Daftar Checklist

Daftar Checklist

Daftar Checklist Nominal




Nominal


Nominal


Nominal



3.6 Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu daftar cheklist register laporan penyakit appendiksitis medical record pasien yang terkena penyakit appendiksitis.

3.7 Jalannya Penelitian
3.7.1 Tahap persiapan
1. Mengajukan judul penelitian
2. Melakukan studi pendahuluan
3. Menyusun proposal penelitian

3.7.2 Tahap pelaksanaan
1. Mencari data pasien yang terkena penyakit appendiksitis pada tahun 2008 di medical record RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
2. Mengolah data dan menganalisa data yang telah didapat.
3.7.3 Tahap penyelesaian
Menyusun Karya Tulis Ilmiah, seminar hasil penelitian, dilanjutkan dengan perbaikan dan pengumpulan laporan Karya Tulis Ilmiah.

3.8 Metode Pengumpulan Data
Sumber data yang digunakan yaitu data sekunder, data sekunder adalah data yang diperoleh dari medical record dan buku register yang terdapat di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru tahun 2008 (Notoatmodjo, 2005).

3.9 Tehnik Pengolahan Data
Menurut Sugiono (2005), pengolahan data dapat dilakukan dengan langkah - langkah sebagai berikut:
3.9.1 Penyuntingan Data (Editing)
Memeriksa data terlebih dahulu meliputi pengecekkan, kelengkapan, identitas, subjek penelitian, pengecekan kelengkapan data dan mengecek melalui isian data.
3.9.2 Pengkodean Data (Coding)
Adalah setiap data yang didapat maka diberi tanda ceklis (√) dan nama pada status pasien diubah menjadi nomor sebagai status pasien.
3.9.3 Tabulasi Data (Tabulating)
Pada tahap ini peneliti merumuskan data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi sesuai dengan analisis master tabel yang telah dibuat. Dengan perhitungan persentase sebagai berikut :

P = F X 100%
n

Keterangan :
P = Persentase
F = Frekuensi faktor-faktor penyebab terjadinya appendiksitis
n = Jumlah sampel (Sudijo, 2006).

3.10 Tehnik Analisa Data
Dalam analisa data penulisan menggunakan analisa univariate yaitu analisa data yang dilakukan hanya melihat hasil perhitungan dari frekuensi serta presentase dari hasil penelitian, yang nantinya akan dipergunakan sebagai tolak ukur untuk pembahasan dan kesimpulan (Arikunto, 2006).
Dengan perhitungan persentase dengan rumus Sudijo (2006) sebagai berikut :

P = F/A/H × 100%
n

Keterangan :
P = Persentase
F = Frekuensi faktor-faktor penyebab terjadinya appendiksitis dari faktor Fekalit,
A = Frekuensi faktor-faktor penyebab terjadinya appendiksitis dari faktor Ascariasis
H = Frekuensi faktor-faktor penyebab terjadinya appendiksitis dari faktor Hyperplasia jaringan limfa
n = Jumlah sampel

3.11 Kesulitan Dan Keterbatasan
3.11.1 Kesulitan Penelitian
Selama melaksanakan penelitian, peneliti mengalami beberapa kesulitan diantaranya yaitu kesulitan dalam mengambil data ke Rumah Sakit dalam memenuhi pihak Rumah Sakit yang berwenang memegang dan memberikan data sehingga memerlukan waktu yang lama.


3.11.2 Keterbatasan Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti mengalami beberapa keterbatasan yaitu kurangnya pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam membuat penelitian ini karena data yang digunakan data sekunder dengan metode deskriptif, serta kepustakaan yang kurang terutama yang khusus membahas faktor penyebab appendiksitis, sehingga Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan.















BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di medical record RSUD Arifin ahmad Pekanbaru Tipe A dengan Akreditasi B, dimana secara geografis RSUD Arifin Ahmad sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Gaja Mada, sebelah Utara berbatasan dengan Jalan Diponegoro, sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Hang Tuah dan sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Mustika.
4.1.2 Karakteristik
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009

No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.
2.
3. <18 tahun
18-35 tahun
>35 tahun 15
38
23 19,7
50
30,3
Jumlah 76 100
Sumber : Hasil Pengolahan Tabel Checklist Tahun 2009

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa sebagian besar berumur 18-35 tahun yaitu 38 status (50%).


Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009

No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.
2. Laki-laki
Perempuan 28
48 36,8
63,2
Jumlah 76 100
Sumber : Hasil Pengolahan Tabel Checklist Tahun 2009
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan yaitu 48 status (63,2%).
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009

No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.
2.
3.
4. SD
SMP
SMU
Perguruan Tinggi 14
9
34
19 18,4
11,8
44,8
25
Jumlah 76 100
Sumber : Hasil Pengolahan Tabel Checklist Tahun 2009
Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar SMU yaitu 34 status (44,8%).







Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009

No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.
2.
3.
4.
5.
6. Pelajar
Mahasiswa
IRT
Swasta
PNS
Pensiunan 12
13
24
24
1
2 15,8
17,1
31,6
31,6
1,3
2,6
Jumlah 76 100
Sumber : Hasil Pengolahan Tabel Checklist Tahun 2009

Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa sebagian besar IRT yaitu 24 responden (31,6%) dan swasta yaitu 24 responden (31,6%).
4.1.3 Faktor-faktor Penyebab Appendiksitis



Gambar 4.1 Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Appendiksitis

Berdasarkan gambar 4.1 menunjukkan bahwa penyebab appendiksitis berdasarkan faktor fekalit yaitu 41 status (54%), berdasarkan faktor ascariasis yatiu 19 status (25%), dan berdasarkan faktor hyperplasia jaringan limfe yaitu 16 status (21%).

4.2 Pembahasan
4.2.1 Berdasarkan Fekalit
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa faktor-faktor penyebab appendiksitis sebagian besar disebabkan oleh fekalit yaitu 41 status (54%). Menurut pendapat peneliti hal ini berkaitan dengan kurangnya mengkonsumsi makanan yang berserat seperti sayur-sayuran dan buah-buahan yang mengakibatkan buang air besar yang kurang lancar.
Menurut Choliq (2008), penyebab appendiksitis yang paling sering terjadi yaitu disebabkan oleh fekalit. Hal itu disebabkan oleh pola makan masyarakat kurang teratur dan seimbang yang menyebabkan feces mengeras dan kemungkinan besar feces tersebut masuk kesaluran appendiks.
Menurut Adi (2008), Apendisitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai faktor pencetusnya. Diantaranya adalah obstruksi yang terjadi pada lumen appendiks. Obstruksi ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras (fekalit), hiperplasia jaringan limfoid, tumor apendiks, striktur, benda asing dalam tubuh, dan cacing askariasis dapat pula menyebabkan terjadinya sumbatan. Namun, diantara penyebab obstruksi lumen yang telah disebutkan di atas, fekalit merupakan penyebab obstruksi yang paling sering terjadi.
Hal ini sesuai dengan penelitian Isma (2005), menyatakan bahwa faktor penyebab appendiksitis yang terjadi di RSUD Semarang sebagian besar disebabkan oleh fekalit yang berjumlah 57%, dan sebagian kecil disebabkan oleh ascariasis.
4.2.2 Berdasarkan Ascariasis
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa faktor-faktor penyebab appendiksitis yang disebabkan oleh ascariasis yaitu 19 status (25%). Menurut pendapat peneliti hal ini berkaitan dengan seseorang yang tidak menerapkan pola hidup sehat terhadap dirinya sendiri dan keluarga kurangnya dengan cara menjaga kebersihan diri agar terhindar dari cacing.
Menurut Anita (2008), appendiksitis juga sering disebabkan oleh ascariasis. Hal ini disebabkan karena disetiap usus manusia terdapat cacing ascariasis, jika setiap orang bisa menjaga pola makan dan kesehatan tubuh, maka cacing tersebut tidak akan berkembang biak dan tidak akan tersasar keappendik.


4.2.2 Berdasarkan hyperplasia jaringan limfe
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa faktor-faktor penyebab appendiksitis yang terkecil disebabkan oleh hyperplasia jaringan limfe yaitu 16 status (21%). Menurut pendapat peneliti hal ini berkaitan dengan pembesaran limfe yang menyebabkan tekanan terhadap appendik dan membuat jaringan-jaringan appendik mati dan membusuk.
Menurut Khomsah (2008), faktor penyebab appendiksitis yang disebabkan oleh hyperplasia jaringan limfe memang sangat jarang terjadi karena pasien yang terkena hyperplasia jaringan limfe tidak semuanya mengakibatkan appendiksitis.
Menurut Hermawan (2008), faktor penyebab appendiksitis yang paling sering ditemukan adalah faktor hyperplasia jaringan limfoid. Penyumbatan atau pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri untuk berkembang biak dan mengakibatkan infeksi yang berakibat pada peradangan usus buntu. Faktor kedua yaitu ascariasis, orang yang mengalami penyakit cacing (cacingan), apabila cacing yang berkembangbiak didalam usus besar lalu tersasar memasuki usus buntu maka dapat menimbulkan penyakit radang usus buntu.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor penyebab appendiksitis di poli bedah RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2008 yang disebabkan oleh faktor fekalit yaitu 41 status (54%), faktor ascariasis yatiu 19 status (25%), dan faktor hyperplasia jaringan limfe yaitu 16 status (21%).

5.2 Saran
5.2.1 Bagi peneliti selanjutnya
Diharapkan dengan adanya penelitian ini agar dapat digunakan untuk perbandingan bagi peneliti selanjutnya.
5.2.2 Bagi institusi pendidikan
Diharapkan bagi institusi pendidikan agar menambah buku referensi tentang appendiksitis dan metodeologi penelitian agar dapat dipergunakan oleh mahasiswa sebagai bahan bacaan untuk menambah ilmu pengetahuan.
5.2.3 Bagi lahan penelitian
Diharapkan agar petugas kesehatan di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru lebih sering melakukan penyuluhan kepada pasien appendiksitis, agar pasien appendiksitis tahu tentang penyebab penyakit appendiksitis.