BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu. Cara yang paling mudah membayangkan mengenai asuhan sayang ibu adalah dengan menanyakan pada diri kita sendiri, “seperti inikah asuhan yang ingin saya dapatkan?” atau “apakah asuhan yang seperti ini yang saya inginkan untuk keluarga saya yang sedang hamil?” (P2KS, 2007).
Asuhan sayang ibu terpusat pada ibu dan bukan pada petugas kesehatan, dan selalu melihat dahulu kecara pengobatan yang sederhana dan non interventive sebelum berpaling keteknologi (Pusdiknakes, 2003).
Persalinan adalah saat yang menegangkan dan menggugah emosi ibu dan keluarganya, malahan dapat pula menjadi saat yang menyakitkan dan menakutkan bagi ibu. Untuk meringankan kondisi tersebut, bidan harus bisa memastikan bahwa setiap ibu akan mendapatkan asuhan sayang ibu selama persalinan (JNPK-KR, 2004).
Di seluruh Negara masih banyak kekurangan tenaga kesehatan yang professional guna menolong persalinan pada setiap ibu yang hendak bersalin, sehingga ibu-ibu yang tidak mau meminta pertolongan tenaga penolong persalinan terlatih untuk memberikan perawatan selama mereka dalam proses persalinan dan menolong proses kelahiran mereka. Sebagian dari alasan mereka adalah karena penolong persalinan yang sudah terlatih tersebut tidak memperhatikan kebutuhan mereka, tradisi maupun kebutuhan pribadi mengenai bagaimana keinginan mereka saat persalinan dan kelahiran bayinya (Pusdiknakes, 2001).
Kemampuan untuk memberikan pelayanan obstetric yang bermutu dan menyeluruh didasarkan atas tinggi rendahnya angka kematian ibu dari suatu Negara. Angka kematian ibu yang masih tinggi tersebut sebenarnya masih dapat dihindari karena sebagian besar terjadi pada saat pertolongan pertama, tetapi penyelenggara kesehatan tidak sanggup untuk memberikan pelayanan (Manuaba, 2001).
Berdasarkan WHO (World Health Organization) jumlah kematian ibu sekitar 500.000 persalinan hidup. Dari jumlah kematian tersebut sebagian besar terjadi di Negara berkembang karena kekurangan fasilitas, terlambatnya pertolongan, persalinan yang ditolong oleh dukun disertai keadaan sosial ekonomi dan kegiatan masyarakat yang masih tergolong rendah, sehingga pada tahun 1978 WHO (World Health Organization) dan UNICEF (United Nation Children Fund) melakukan pertemuan di Unisovyet dan mencetuskan “Idea Primary Health Care” sebagai landasan pelayanan kebidanan yang dapat dijangkau masyarakat dan disesuaikan dengan kemampuan setiap Negara untuk menyelenggarakan (Manuaba, 2001).
Laporan Pembangunan Manusia tahun 2000 menyebutkan angka kematian ibu di Malaysia jauh di bawah Indonesia yaitu 41 per 100 ribu kelahiran hidup, Singapura 6 per 100 ribu kelahiran hidup, Thailand 44 per 100 ribu kelahiran hidup, dan Filiphina 170 per 100 ribu kelahiran hidup. Padahal, tahun 2000 itu angka kematian ibu masih berkisar diangka 307 per 100 ribu kelahiran hidup. Bahkan Indonesia kalah dibandingkan Vietnam, Negara yang belum lama merdeka, yang memiliki angka kematian ibu 160 per 100 ribu kelahiran hidup (Hidayatun, 2008).
Kematian ibu melahirkan masih menjadi persoalan yang cukup pelik di Indonesia. Data dari BPS (Badan Pusat Statistik) merupakan sebesar 262 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2005. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2002-2003, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup. Depkes menargetkan pada tahun 2009 AKI menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup (Hidayatun, 2008).
Pada tahun 2005 AKI di Pekanbaru berjumlah 11 per 19.657 persalinan hidup, yang mana pada tahun 2006 AKI meningkat menjadi 17 per 20.210 persalinan hidup. Ini menunjukkan derajat kesehatan ibu selama hamil dan melahirkan masih memerlukan perhatian dan penanganan yang lebih baik (Profil Dinkes, 2006).
Berbagai hasil penelitian mengemukakan bahwa standar pelayanan antenatal sangat bermanfaat dalam deteksi dini resiko yang akan terjadi selama kehamilan, persalinan maupun nifas. Serta hasil observasi menunjukkan bahwa pelayanan kebidanan yang diberikan oleh bidan sering tidak ditepat dan bidan yang masih kurang pengalamannya dalam pelayanan kebidanan. Bidan memegang peranan penting dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan kesehatan dan pengertian masyarakat melalui konsepsi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative, sehingga diagnosa dini dapat ditegakkan untuk menurunkan AKI (Manuaba, 2001).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti ingin meninjau pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal. Untuk itu peneliti memilih dan menetapkan judul “Gambaran Pelaksanaan Asuhan Sayang Ibu Pada Persalinan Normal di Ruangan Camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti berkeinginan untuk meneliti bagaimana pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui persentase gambaran pelaksanaan asuhan sayang ibu dalam proses persalinan.
1.3.2.2 Untuk mengetahui persentase gambaran pelaksanaan asuhan sayang ibu dan bayi pada masa pascapersalinan.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti dalam menerapkan ilmu yang didapat selama perkuliahan, terutama tentang asuhan sayang ibu pada persalinan.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini nantinya dapat berguna untuk menambah pengetahuan bagi mahasiswa dan sebagai pedoman untuk penelitian selanjutnya khususnya mengenai asuhan sayang ibu pada persalinan normal.
1.4.3 Bagi Tempat Penelitian
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi masukan dan sumbangan dalam meningkatkan pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal khususnya di ruangan Camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Kehamilan
2.1.1 Pengertian Kehamilan
Kehamilan merupakan sebuah proses diawali dengan keluarnya sel telur yang telah matang dari indung telur. Ketika telur yang matang itu berada pada saluran telur dan pada saat itu sperma yang masuk dan bertemu dengan sel telur maka keduanya akan menjadi menyatu membentuk sel yang akan tumbuh (Lukman, 2004).
Hamil adalah mengandung janin dalam rahim karena sel telur dibuahi oleh spermatozoa (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2002).
Ibu hamil merupakan wanita yang mengandung janin dalam rahim karena sel telur dibuahi oleh spermatozoa (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2002).
2.2 Konsep Dasar Asuhan Sayang Ibu Pada Persalinan
2.2.1 Asuhan Sayang Ibu
Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu. Beberapa prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengikut sertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Perhatian dan dukungan kepada ibu selama proses persalinan akan mendapatkan rasa aman dan keluaran yang lebih baik (Febrianti, 2006).
2.2.2 Asuhan Sayang Ibu Dalam Proses Persalinan
Menurut Pusat Pelatihan Klinik Sekunder (P2KS) Propinsi Riau tahun 2007 asuhan sayang ibu dalam proses persalinan yaitu:
a. Memanggil ibu sesuai namanya, menghargai dan memperlakukannya sesuai martabatnya.
b. Menjelaskan asuhan dan perawatan yang akan diberikan pada ibu sebelum memulai asuhan tersebut.
c. Menjelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya.
d. Menganjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut atau khawatir.
e. Mendengarkan dan menanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu.
f. Memberikan dukungan, membesarkan hatinya dan menentramkan perasaan ibu beserta anggota keluarga yang lain.
g. Menganjurkan ibu untuk ditemani suaminya dan/atau anggota keluarga yang lain selama persalinan dan kelahiran bayinya.
h. Mengajari suami dan anggota keluarga mengenai cara memperhatikan dan mendukung ibu selama persalinan dan kelahiran bayinya.
i. Melakukan pencegahan infeksi yang baik secara konsisten.
j. Menghargai privasi ibu.
k. Menganjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan dan kelahiran bayinya.
l. Menganjurkan ibu untuk minum cairan dan makan-makanan ringan bila ibu menginginkan.
m. Menghargai dan membolehkan praktek-praktek tradisional yang tidak memberi pengaruh yang merugikan.
n. Menghindari tindakan berlebihan dan mungkin membahayakan (episiotomy, pencukuran, dan klisma).
o. Menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya setelah lahir.
p. Membantu memulai pemberian ASI dalam 1 jam pertama setelah kelahiran bayi.
q. Menyiapkan rencana rujukan (bila perlu).
r. Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik, bahan-bahan, perlengkapan dan obat-obatan yang diperlukan.
2.2.3 Asuhan Sayang Ibu dan Bayi pada Masa Pascapersalinan
a. Menganjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat gabung).
b. Membantu ibu untuk mulai membiasakan menyusui dan menganjurkan pemberian ASI sesuai permintaan.
c. Mengajarkan ibu dan keluarganya mengenai nutrisi dan istirahat yang cukup setelah melahirkan.
d. Menganjurkan suami dan anggota keluarga untuk memeluk bayi dan mensukuri kelahiran bayinya.
e. Mengajarkan ibu dan anggota keluarga tentang bahaya dan tanda-tanda bahaya yang dapat diamati dan anjurkan mereka untuk mencari pertolongan jika terdapat masalah atau kekhawatiran.
2.2.4 Asuhan Persalinan Normal
2.2.4.1 Pengertian Persalinan Normal
Persalinan normal yaitu suatu proses pengeluaran buah kehamilan cukup bulan yang mencakup pengeluaran bayi, plasenta dan selaput ketuban, dengan presentasi kepala (posisi belakang kepala), dari rahim ibu melalui jalan lahir (baik jalan lahir lunak maupun kasar), dengan tenaga ibu sendiri (Luwzee, 2009).
2.2.4.2 Tujuan Asuhan Persalinan Normal
Tujuan persalinan normal yaitu menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui upaya terintegrasi dan lengkap tetapi dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan (Pusat Pelatihan Klinik Sekunder, 2007).
2.2.4.3 5 dasar asuhan persalinan yang bersih dan aman yaitu :
a. Membuat keputusan klinik adalah proses pemecahan masalah yang akan digunakan untuk merencanakan arahan bagi ibu dan bayi baru lahir.
b. Asuhan sayang ibu dan sayang bayi adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu.
c. Pencegahan infeksi yaitu untuk melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga, penolong persalinan dan tenaga kesehatan lainnya dengan mengurangi infeksi karena bakteri, virus dan jamur.
d. Pencatatan (rekam medis) yaitu semua asuhan yang diberikan kepada ibu dan bayi nya.
e. Rujukan.
2.4 KERANGKA KONSEP
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan. ( Notoatmodjo, 2005)
Keterangan :
: Variabel
: Sub variabel
Gambar 2.1 Kerangka Konsep
2.5 Defenisi Operasional
Tabel 2.1 Definisi Operasional
Variabel Sub Variabel Defenisi Operasional Alat Ukur Skala Ukur Kategori
Gambaran pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009 Segala sesuatu hal pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009 Angket Nominal Ya
Tidak
Asuhan sayang ibu pada proses persalinan Segala sesuatu hal asuhan sayang ibu pada proses persalinan Angket Nominal Ya
Tidak
Asuhan sayang ibu pada masa postpartum Segala sesuatu hal asuhan sayang ibu pada masa postpartum Angket Nominal Ya
Tidak
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian adalah kuantitatif dan rancangan penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan data primer untuk mengetahui pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009.
3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan bulan Juni 2009.
3.3 Populasi, Sampel dan Sampling
3.3.1 Populasi
Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu-ibu yang menjalani persalinan di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Zanbar, 2005). Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagian dari ibu-ibu yang melakukan persalinan di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru dengan sampel minimum yang berjumlah 30 orang, dalam statistik dianggap menuju angka jumlah banyak karena bila dibuat kurvanya akan mendekati kurva normal (Machfoedz, 2005).
3.3.3 Sampling
Sampling adalah mengambil sampel penelitian ini digunakan dengan cara atau teknik-teknik tertentu, sehingga sampel tersebut sedapat mungkin mewakili populasinya. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan metode Accidental sampling yaitu pengambilan sampel secara kebetulan ada di tempat penelitian (Notoatmodjo, 2005).
3.4 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah hanya satu variabel yaitu gambaran pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009. Sedangkan yang menjadi sub variabel dalam penelitian ini adalah asuhan sayang ibu dalam proses persalinan dan asuhan sayang ibu pada masa postpartum.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Sumber data yang yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer adalah Tehnik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menggunakan angket dan diisi langsung oleh peneliti sambil melihat pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal.
3.6 Instrumen Penelitian
Dalam melakukan pengumpulan data, peneliti menggunakan alat pengumpul data dengan menggunakan angket yang digunakan untuk mengukur gambaran pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Peneliti menggunakan kuesioner yang berisi 25 pernyataan untuk mengukur pengetahuan ibu hamil tentang asuhan sayang ibu pada persalinan normal dengan pilihan jawaban benar dan salah.
3.7 Tehnik Pengolahan Data
Sebelum melakukan pengolahan data peneliti terlebih dahulu melakukan pemeriksaan pada setiap kuisioner yang telah diisi oleh responder apakah sudah dijawab dengan lengkap sesuai dengan ketentuan. Data yang telah dikumpul dalam tahap pengumpulan data perlu diolah terlebih dahulu, tujuanya adalah untuk menyederhanakan seluruh data yang sudah terkumpul, menyajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis.
Menurut Sugiono (2005), pengolahan data dapat dilakukan dengan langkah - langkah sebagai berikut:
3.7.1 Penyuntingan Data (Editing)
Editing (pengecekan kelengkapan data) yaitu memeriksa data terlebih dahulu meliputi pengecekan data yang telah dikumpulkan. bila terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam pengumpulan data dapat diperbaiki dan dapat dilakukan pendataan ulang.
3.7.2 Pengkodean Data (Coding)
Coding adalah pemberian kode jawaban dengan angka atau dengan kode lain seperti simbol-simbol tertentu untuk setiap jawaban. Data yang telah terkumpul dicoding satu – satu mengenai jawaban dan kelengkapannya lalu dilanjutkan dengan tabulasi.
3.7.3 Tabulasi Data (Tabulating)
Tabulasi data adalah untuk menyusun dan menghitung data yang diperoleh. Setelah data diolah kemudian disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Data yang telah selesai kemudian dihitung jumlahnya sesuai dengan alternatif jawaban. Jawaban dinilai dengan cara sebagai berikut: untuk jawaban yang ya diberi nilai = 1, sedangkan untuk jawaban yang tidak diberi nilai = 0
3.8 Tehnik Analisa Data
Menurut Arikunto (2006) dalam analisa data peneliti menggunakan analisis univariat yaitu analisis data yang digunakan untuk melihat hasil perhitungan frekuensi dan presentase dari peneliti yang nantinya akan digunakan sebagai tolak ukur untuk membahas kesimpulan.
Menurut Notoatmodjo (2005), jawaban untuk semua item pertanyaan dari seluruh responder dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan
P = Persentase
F = Jumlah jawaban yang benar
N = Jumlah soal
(Nursalam, 2003)
All Bout MeArsip BlogLabelLinksPengikut |
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar