BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hepatitis merupakan suatu penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme dan zat kimiawi. Salah satu mikroorganisme penyebab hepatitis yang paling sering dijumpai adalah virus hepatitis (virus hepatitis A, B, C, D, E) dan hepatitis yang paling banyak dijumpai yaitu hepatitis B. Virus ini tersebar diseluruh Dunia dan penularannya dapat melalui berbagai cara, antara lain melalui jalur oral-fekal, jarum suntik, pisau cukur, hubungan seksual, dan darah atau produk darah (Christina, 2008).
Tidak setiap orang terkena virus hepatitis akan memperlihatkan gejala, oleh karena itu tes laboratorium sangat diperlukan untuk mendukung diagnosa penyakit ini. Seseorang yang menderita virus hepatitis dapat sembuh atau berlanjut menjadi kronis bila tidak sembuh selama enam bulan, bahkan berakhir dengan kematian bila penyakit ini berkembang menjadi sirosis dan kanker hati, terutama pada infeksi hepatitis B (Christina, 2008).
Hepatitis tidak semata-mata hanya disebabkan oleh virus. Keracunan obat, dan paparan berbagai macam zat kimia seperti karbon tetraklorida, chlorpromazine, chloroform, arsen, fosfor, dan zat-zat lain yang digunakan sebagai obat dalam industri modern, bisa juga menyebabkan hepatitis. Zat-zat kimia ini mungkin saja tertelan, terhirup atau diserap melalui kulit penderita. Menetralkan suatu racun yang beredar di dalam darah adalah pekerjaan hati. Jika banyak sekali zat kimia beracun yang masuk ke dalam tubuh, hati bisa saja rusak sehingga tidak dapat lagi menetralkan racun-racun lain (Derek, 2008).
Hepatitis B adalah penyekit infeksi pada hati. Infeksi hepatitis B kronis atau jangka panjang dapat mengakibatkan kerusakan hati yang parah, seperti pergeseran hati atau sirosis dan kanker hati yang dapat mengakibatkan kematian (Derek, 2008).
Hepatitis B merupakan penyakit yang banyak ditemukan didunia dan dianggap sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang harus diselesaikan. Hal ini karena selain prevalensinya tinggi, virus hepatitis B dapat menimbulkan problema pasca akut bahkan dapat terjadi cirroshis hepatitis dan karsinoma hepatoseluler primer. Sepuluh persen dari infeksi virus hepatitis B akan menjadi kronik dan 20 % penderita hepatitis kronik ini dalam waktu 25 tahun sejak tertular akan mengalami cirroshis hepatis dan karsinoma hepatoselluler (hepatoma). Kemungkinan akan menjadi kronik lebih tinggi bila infeksi terjadi pada usia balita dimana respon imun belum berkembang secara sempurna (Aguslina, 2008).
Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organition (WHO) menyebutkan, pada tahun 2006 hingga saat ini sekitar dua milyar orang terinfeksi virus hepatitis B diseluruh Dunia dan 350 juta orang diantaranya berlanjut menjadi infeksi hepatitis B kronis. Diperkirakan 600.000 orang meninggal dunia per tahun karena penyakit hepatitis B (Sasono, 2008).
Angka kejadian infeksi hepatitis B di Indonesia diperkirakan mencapai 5-10 % dari jumlah penduduk. Angka kejadian hepatitis B paling tinggi di kawasan Timur Indonesia (Salim, 2008). Selain itu di Indonesia infeksi virus hepatitis B terjadi pada bayi dan anak, diperkirakan 25-45 % pengidap adalah karena infeksi perinatal. Hal ini berarti bahwa Indonesia termasuk daerah endemis penyakit hepatitis B dan termasuk negara yang dihimbau oleh WHO untuk melaksanakan upaya pencegahan (Imunisasi) (Aguslina, 2008).
Virus hepatitis B bisa menyerang siapa saja tanpa pandang buluh, mulai anak-anak hingga usia dewasa. Di Palembang penderita hepatitis B 68,5% adalah laki-laki dengan usia tersering adalah pada kelompok usia 11-18 tahun (28,5%) (Imelda, 2001).
Berdasarkan survei yang telah dilakukan peneliti di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru didapatkan data pasien yang terkena penyakit hepatitis B pada tahun 2006 jumlah pasien yang terkena penyakit hepatitis B yaitu 156 pasien, sedangkan tahun 2007 jumlah pasien yang terkena penyakit hepatitis B yaitu 187 pasien, dan pada tahun 2008 terjadi lagi peningkatan jumlah pasien yang terkena penyakit hepatitis B yaitu berjumlah 211 pasien (Profil RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru, 2008).
Berdasarkan data diatas dapat dilihat terjadinya peningkatan penderita hepatitis B di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru setiap tahunnya, maka peneliti tertarik untuk mengetahui apa faktor penyebab hepatitis B di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru tahun 2008.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti ingin mengambil judul “Faktor Penyebab Terjadinya Hepatitis B di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru 2008”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu ”Apakah faktor penyebab terjadinya hepatitis B di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru tahun 2008?”
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya hepatitis B di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru tahun 2008.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui jumlah persentase faktor penyebab terjadinya hepatitis B yang disebabkan oleh infeksi virus.
1.3.2.2 Untuk mengetahui jumlah persentase faktor penyebab terjadinya hepatitis B yang disebabkan oleh infeksi non-virus.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi peneliti
Memberikan pengalaman nyata dan mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh diperkuliahan terutama tentang penelitian, dan penelitian ini adalah salah satu persyaratan kelulusan D III Keperawatan.
1.4.2 Bagi pendidikan
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa AKBID / AKPER Dharma Husada Pekanbaru, dan untuk penelitian selanjutnya yang ada kaitannya dengan Karya Tulis Ilmiah ini.
1.4.3 Bagi Instansi Kesehatan
Sebagai bahan informasi tentang hepatitis khususnya tentang faktor penyebab terjadinya hepatitis B.
1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini dapat dijadikan perbandingan bagi peneliti selanjutnya terutama tentang hepatitis B.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Hepatitis
2.1.1 Pengertian Hepatitis
Hepatitis adalah istilah yang digunakan untuk berbagai kondisi dimana terjadi peradangan atau nerkosis sel-sel hati. Nerkosis adalah istilah yang digunakan bagi kematian sebagian atau semua sel didalam suatu organ atau jaringan (Ramiah, 2006).
2.1.2 Jenis-Jenis Hepatitis
Menurut Ramaiah tahun 2006, hepatitis dibagi menjadi 6 yaitu :
a. Hepatitis A
Hepatitis A adalah penyakit yang sangat menular dan virusnya ditemukan dalam tinja orang yang terinfeksi oleh hepatitis A.
b. Hepatitis B
Virus hepatitis B dapat menyebabkan baik infeksi akut maupun kronis. Virus ini biasanya disebarkan melalui darah atau produk darah dari seseorang yang terinfeksi virus hepatitis B.
c. Hepatitis C
Seperti halnya hepatitis B, hepatitis c juga menular melalui jarum suntik yang terinfeksi dan transfusi darah atau produk darah yang terinfeksi. Namun, penyakit ini jarang menular melalui kontak pribadi yang dekat atau hubungan seksual, atau kepada bayi yang baru lahir melalui ibu yang terinfeksi.
d. Hepatitis D
Hepatitis D terjadi hanya pada mereka yang terkena infeksi hepatitis B. Ini karena infeksi tersebut membutuhkan virus hepatitis B untuk bisa bertahan hidup dan menyebabkan penyakit.
e. Hepatitis E
Hepatitis E penyebaranya serupa dengan infeksi hepatitis A. Penyakit ini lebih sering menjangkiti orang dewasa ketimbang anak-anak dan lebih mungkin menyebabkan epidemi. Epidemi adalah istilah yang biasa digunakan untuk merujuk pada situasi dimana sejumlah besar orang terkena penyakit yang sama dalam wilayah gografis yang sama dan pada saat yang singkat.
2.2 Konsep Dasar Hepatitis B
2.2.1 Pengertian Hepatitis B
Hepatitis B adalah penyakit infeksi pada hati yang disebabkan virus hepatitis B (Sasono, 2008). Virus hepatitis B adalah virus Asam Deoksiribonukleat DNA yang telah dikenal dengan baik, yang ditularkan secara parenatal (tranfusi darah, jarum) atau lewat kontak oral atau seksual dan menyebabkan penyakit hati akut dan kronis (Jay, 2000).
2.2.2 Kelompok Yang Beresiko Tinggi Terkena Hepatitis B
Menurut Ramaiah tahun 2006, ada 8 kelompok orang yang beresiko tinggi terkena infeksi hepatitis B yaitu :
a. Pekerja kesehatan yang berkontak dengan darah atau cairan tubuh orang yang terkontaminasi.
b. Kaum homoseksual.
c. Orang yang melakukan kontak seksual dengan mereka yang memiliki virus hepatitis B.
d. Orang yang mengidap penyakit ginjal yang membutuhkan cuci darah.
e. Orang yang menerima transplantasi organ bagi tubuh mereka dari donor yang terinfeksi.
f. Orang yang menjalani perawatan bagi leukemia.
g. Bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi.
h. Pengguna obat yang disuntikkan kepembuluh darah, yang berbagi jarum dan alat suntik yang telah terinfeksi.
2.2.3 Faktor-faktor Penyebab Hepatitis B
a. Infeksi Virus
Infeksi virus yaitu infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B itu sendiri, yang ditularkan melalui transfusi darah atau suntikan, lewat kontak oral atau seksual, dapat juga menular pada ibu hamil yang menularkan kepada bayinya (Arkanada, 2008).
Penyebab virus hepatitis B dari ibu hamil kepada anaknya terjadi pada saat proses persalinan oleh adanya kontak atau paparan dengan secret (cairan) yang mengandung virus hepatitis B (cairan amnion, darah ibu, sekret vagina) pada kulit bayi dengan lesi dan pada mukosa (Imelda, 2001).
Infeksi virus dapat merusak hati secara langsung menyerang dan merusak sel hati yang akan menyebabkan hepatitis kronis. Hepatitis B kronis biasanya terjadi ketika mekanisme pertahanan alami tubuh tidak dapat menghancurkan semua virus hepatitis B yang memasuki tubuh. Virus-virus yang tidak dihancurkan terus berkembang biak dan menyebabkan infeksi kronis. Jenis inveksi kronis ini lebih umum terjadi dalam infeksi hepatitis B (Ramaiah, 2006).
b. Infeksi Non Virus
Infeksi non virus yaitu infeksi yang tidak disebabkan oleh virus hepatitis B, melainkan disebabkan oleh virus lain, yaitu :
1. Leptospira icterohaemorragica yaitu suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri yang disebut leptospira. Penyakit ini menyebar dari hewan yang terinfeksi kepada manusia, baik melalui kontak langsung maupun melalui air atau tanah yang terkontaminasi. Jika penyakit ini tidak juga diobati maka akan merusak sel hati dan akan menyebabkan hepatitis B (Ramaiah, 2006).
2. Toxoplasma gondii yaitu parasit kucing atau hewan peliharaan lainnya. Penyakit ini menyebabkan penyakit saraf yang disebut toxoplamosis. Parasit yang masuk ketubuh manusia yang akan merusak sel-sel darah dan masuk kehati yang akan merusak kerja hati dan menyebabkan hepatitis B (Ramaiah, 2006).
3. Herpes simpleks yaitu radang kulit disertai timbulnya vesikel-vesikel disebabkan virus, biasanya terjadi di daerah perbatasan selaput lendir dan kulit, dapat terjadi digingiva, orofaring dan konjungtiva, juga disekitar alat kelami luar. Orang yang terkena herpes simpleks sebagian besar akan terkena penyakit hepatitis B. Herpes simpleks yang tidak diobati sangat mudah dimasuki oleh kuman-kuman dan bakteri, karena cairan yang terdapat pada herpes simpleks bisa masuk kepembuluh darah dan masuk kesel hati yang akan merusak hati dan akan menyebabkan hepatitis B (Arkanda, 2008).
2.2.4 Gejala Hepatitis B
Menurut Meta tahun 2008, gejala hepatitis B biasanya muncul secara tiba-tiba seperti :
a. Penurunan nafsu makan.
b. Merasa tidak enak badan.
c. Mual-muntah.
d. Demam.
e. Kadang timbul nyeri sendi dan gatal-gatal pada kulit.
2.2.5 Pencegahan Hepatitis B
Hepatitis B dapat dicegah dengan imunisasi aktif atau pasif. Imunisasi aktif adalah istilah yang digunakan untuk proses dimana untuk membangun perlindungan jangka panjang terhadap infeksi yang baru sebagai hasil dari produksi antibodi. Antibodi ini dapat berkembang secara alami ketika seseorang menderita penyakit hepatitis B. Imunisasi pasif adalah istilah yang digunakan untuk proses dimana seseorang mengembangkan perlindungan jangka pendek terhadap infeksi yang baru. Perlindungan pasif dapat berkembang ketika :
a. Seorang bayi yang belum lahir menerima antibodi dari ibunya.
b. seorang bayi yang baru lahir menerima antibodi dari kolostrum, ASI (Air Susu Ibu) pertama yang dikeluarkan oleh ibu setelah persalinan.
c. Suatu vaksin yang mengandung antibodi yang disuntikkan kedalam tubuh (Ramaiah, 2006).
2.2.6 Penatalaksanaan Hepatitis B
a. Tirah Baring
Tirah baring yaitu beristirahat secara total, beristirahat total merupakan hal yan paling penting untuk penderita hepatitis B. Penyembuhan hepatitis B pada umumnya sangat bergantung pada kekebalan tubuh penderita. Makin baik kondisi penderita, tentu semakin mudah untuk terjadi penyembuhan.
b. Diet
Penderita hepatitis B tetap diperbolehkan diet yang mengandung lemak. Yang tidak boleh yaitu makanan / minuman yang mengandung alcohol, jamu-jamuan yang tidak jelas zat aktifnya, merokok, dan lain-lain. Tetapi pada umumnya penderita tidak bisa makan karena mual dan muntah. Jika keadaan ini tidak bisa ditolerir lagi, dokter akan memasukkan makanan melalui infus (Erik, 2002).
2.3 Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan ( Notoatmodjo, 2005).
Independen Dependen
Gambar 2.1 Kerangka Konsep
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian adalah kuantitatif yaitu suatu proses penelitian mulai dari merumuskan permasalahan hingga mengambil kesimpulan (Prasetyo, 2005). Sedangkan rancangan penelitian ini bersifat deskriptif yaitu untuk melihat faktor penyebab terjadinya hepatitis B di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru (Prasetyo, 2005).
3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009.
3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada bulan Mei - Juni tahun 2009.
3.3 Populasi, Sampel dan Sampling Penelitian
3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh status pasien yang terkena hepatits B yang didapat dari medical record di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2008 berjumlah 211 orang.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Zanbar, 2005).
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 68 orang yang didapat dari medical record di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru pada tahun 2008. Dengan menggunakan rumus :
N
n =
1 + N (d²)
211
n =
1 + 211 (0,1²)
n = 68 orang
Keterangan :
N : Besar populasi
n : Besar sampel
d : Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan (0,1)
(Notoatmodjo, 2005)
3.3.3 Sampling
Sampling adalah mengambil sampel penelitian ini digunakan dengan cara atau teknik-teknik tertentu, sehingga sampel tersebut sedapat mungkin mewakili populasinya. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan metode Quota sampling yaitu dengan cara menetapkan sejumlah anggota sampel dengan populasi manapun yang akan diambil dari medical record di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru (Notoatmodjo, 2005).
3.4 Variabel Penelitian
Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain (Notoatmodjo, 2002). Variabel pada penelitian ini yaitu variabel independen : faktor penyebab terjadinya hepatitis B, dan variabel dependen : hepatitis B.
3.5 Defenisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Variabel Penelitian Defenisi Operasional Skala Alat ukur Hasil ukur
Faktor penyebab terjadinya hepatitis B
a. Infeksi virus
b. Infeksi non virus
Suatu penyakit hepatitis B yang disebabkan oleh virus
Hepatitis B.
Suatu penyakit hepatitis B yang tidak disebabkan oleh virus Hepatitis B.
Nominal
Nominal
Daftar Checklist
Daftar Checklist
a. Ya
b. Tidak
a. Leptospira icterohaemorragica
b. Toxoplasma gondi
c. Herpes simpleks
3.6 Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu daftar checklist pencatatan rekam medik RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru tentang penyakit hepatitis B pada pasien yang terkena penyakit hepatitis B.
3.7 Metode Pengumpulan Data
Sumber data yang digunakan yaitu data sekunder, data sekunder adalah data yang diperoleh dari medical record pasien yang terkena penyakit hepatitis B di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru tahun 2008.
3.8 Tehnik Pengolahan Data
Menurut Sugiono (2005), pengolahan data dapat dilakukan dengan langkah - langkah sebagai berikut:
3.8.1 Penyuntingan Data (Editing)
Memeriksa data terlebih dahulu meliputi pengecekkan, kelengkapan, identitas, subjek penelitian, pengecekan kelengkapan data dan mengecek melalui isian data.
3.8.2 Pengkodean Data (Coding)
Adalah setiap data yang didapat maka diberi tanda ceklis (√) dan nama pada status pasien diubah menjadi nomor sebagai status pasien.
3.8.3 Tabulasi Data (Tabulating)
Pada tahap ini peneliti merumuskan data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi sesuai dengan analisis master tabel yang telah dibuat.
3.9 Tehnik Analisa Data
Dalam analisa data penulisan menggunakan analisa univariat yaitu analisa data yang dilakukan hanya melihat hasil perhitungan dari frekuiensi serta presentase dari hasil penelitian, yang nantinya akan dipergunakan sebagai tolak ukur untuk pembahasan dan kesimpulan (Arikunto, 2006).
P = F X 100%
n
Keterangan :
P = Persentase
F = Frekuensi faktor penyebab terjadinya hepatitis B
n = Jumlah kasus hepatitis B

Tidak ada komentar:
Posting Komentar