All Bout MeLabelLinksPengikut |
|
Rabu, 15 Juli 2009
abortus
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan pada hakikatnya adalah penyelenggaraan upaya kesehatan untuk mencapai kemampuan untuk kehidupan sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Dalam konteks rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010. Visi dari Making Pregnancy Safer (MPS) adalah untuk menurunkan angka kematian dan persalinan di Indonesia berlangsung aman serta bayi yang dilahirkan hidup sehat (Prawirohardjo, 2002).
Upaya dalam meningkatkan kualitas kesehatan penduduk dalam pencapaian peningkatan produktivitas dan kesejahteraan umum maka untuk mencapai hal tersebut pembangunan kesehatan pada dewasa ini diajukan pada peningkatan pemerataan mutu pelayanan dengan memberikan pelayanan yang professional dapat menurunkan angka kematian dan kesakitan ibu bersalin dan anak (Prawirohardjo, 2002).
Kesehatan adalah suatu aspek yang paling penting dalam kehidupan manusia. Berbagai upaya dijalankan untuk memelihara kondisi kesehatan atau memulihkan kondisi kesehatan agar kembali seperti sediakala. Sehat dan sakit adalah gejala universal dalam kehidupan manusia, yang pada berbagai tahap dalam berbagai kehidupan tanpa disadari atau kadang-kadang muncul kepermukaan apabila kondisi sakit telah serius (Prawirohardjo, 2002).
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup diluar kandungan (Prawirohardjo, 2002).
Sejak lama diketahui bahwa abortus spontan hanyalah sebagian kecil dari seluruh kejadian abortus. Bagian terbesar adalah abortus provokatus yang dilakukan dengan sengaja akibat kehamilan yang tidak diinginkan. Dari hasil World Fertility Survey tahun 1987, diketahui bahwa diseluruh dunia ada sekitar 300 juta pasangan usia subur yang tidak ingin mempunyai anak lagi, tetapi tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun. Mereka adalah kelompok yang sangat beresiko untuk mengalami kehamilan yang tidak diingini (Kodim, 2007).
Saat ini dunia masih menghadapi tingginya angka kematian ibu (AKI) saat melahirkan dan balita, khususnya bayi baru lahir. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organition) mencatat, tiap tahunnya, angka kematian ibu (AKI) sedangkan di Indonesia sekitar 14.180 perempuan (Sugiono, 2005).
Di Indonesia angka kejadian abortus merupakan angka tertinggi dari penyebab kematian maternal yaitu 30%-35% dibandingkan dengan penyebab kematian ibu yang lainya. Angka kematian maternal ini menjadi sorotan Negara karena disebabkan kurangnya pengetahuan ibu tentang kelainan yang terjadi pada kehamilan sehingga kelainan kehamilan terlambat untuk diketahui. Bila ibu atau petugas kesehatan dapat mengetahui kelainan pada kehamilan terutama abortus maka AKI dan Abortus diturunkan (Manuaba, 2007).
Pada tahun 2005 AKI di Pekanbaru berjumlah 11 per 19.657 persalinan hidup, yang mana pada tahun 2006 AKI meningkat menjadi 17 per 20.210 persalinan hidup. Ini menunjukkan derajat kesehatan ibu selama hamil dan melahirkan masih memerlukan perhatian dan penanganan yang lebih baik (Profil Dinkes, 2006).
Abortus merupakan hal yang umum terjadi pada kehamilan dini yang berkisar antara 15%-25%. Abortus sering terjadi pada minggu ke enam sampai ke sepuluh, disertai dengan perdarahan pervaginam dengan rasa nyeri. Abortus atau keguguran adalah terhentinya proses kehamilan sebelum fetus atau janin mampu hidup diluar kandungan ibunya dengan atau tanpa alat bantu (Prawirohardjo, 2002).
Berdasarkan profil Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru tahun 2008 jumlah ibu hamil yang terdapat di 12 kecamatan yang ada di Pekanbaru adalah 22.083 orang. Data ibu hamil terbanyak terdapat di kecamatan Bukit raya yang terletak di wilayah kerja puskesmas Harapan Raya dengan jumlah 2.410 orang ibu hamil.
Berdasarkan survey yang telah dilakukan peneliti di wilayah kerja Puskesmas Harapan Raya tahun 2008 jumlah kunjungan ibu hamil trimester pertama yang terbanyak yaitu di Rumah Bersalin Taman Sari 1 sebanyak 220 orang dari 461 ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya yang dapat dilihat dari tabel dibawah ini :
Tabel 1.1
Jumlah Kunjungan Ibu hamil Pada Beberapa Rumah Bersalin Yang Berada Di Wilayah Kerja Puskesmas Harapan Raya
Tahun 2008
No
Nama RB
Jumlah Kunjungan Ibu
Hamil Setiap Tahun Kunjungan IbuHamil
Trimester Pertama
1.
2. RB Putri Asih
RB Taman Sari 1 80
461 49
220
Sumber : Puskesmas Harapan Raya
Berdasarkan tabel diatas didapatkan jumlah ibu hamil trimester pertama yaitu 220 orang (47,7%) dari 461 ibu hamil yang melakukan kunjungan ke Rumah Bersalin Taman Sari 1. Disini masih terlihat rendahnya kunjungan ibu hamil trimester pertama, sehingga peneliti tertarik untuk melakukuan penelitian tentang pengetahuan ibu hamil trimester pertama tentang abortus di Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru tahun 2009.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan yang telah diungkapkan pada latar belakang didapatkan masalah yaitu “ Bagaimana Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Trimester Pertama Tentang Abortus di Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru tahun 2009 “.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Trimester pertama Tentang Abortus.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil trimester pertama tentang pengertian abortus.
1.3.2.2 Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil trimester pertama tentang jenis-jenis abortus.
1.3.2.3 Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil trimester pertama tentang penyebab terjadinya abortus.
1.3.2.4 Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil trimester pertama tentang klasifikasi abortus serta tanda dan gejala abortus.
1.3.2.5 Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil trimester pertama tentang penatalaksanaan komplikasi pada abortus.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi peneliti dan menambah pengetahuan, serta menambah wawasan dan pengalaman yang lebih luas tentang abortus.
1.4.2 Bagi Tempat Penelitian
Penelitian ini dapat menjadi masukan dan sumbangan fikiran dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dan memberikan pengetahuan pada ibu hamil khususnya tentang abortus di Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru.
1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai wacana untuk penelitian lebih lanjut bagi pihak pendidikan khususnya pada Akademi Kebidanan Dharma Husada Pekanbaru.
1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini dapat dijadikan bahan perbandingan bagi peneliti selanjutnya terutama tentang abortus.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Pengetahuan
2.1.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan atau kognitif merupakan dokumen yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang dari pegalaman dan penelitian terbukti bahwa prilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada prilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2005).
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba sebagian besar pengatahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga (Notoatmodjo, 2005).
2.1.2 Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan mempunyai 6 tingkatan menurut Notoatmodjo (2005) yaitu :
2.1.2.1 Tahu (Know)
Diartikan sebagai mengingat kembali terhadap sesuatu dari seluruh bahan yang sudah dipelajari, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2.1.2.2. Memahami (Comprehension)
Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menjabarkan, memberi contoh, mengamalkan dan sebagainya.
2.1.2.3 Aplikasi (Aplication)
Mampu menggunakan atau melaksanakan tentang apa yang telah dipelajari pada suatu kondisi yang realita.
2.1.2.4 Analisis (Analysis)
Kemampuan untuk mendapatkan suatu kebenaran dimana untuk mendapatkan kebenaran ini merupakan suatu proses yang rumit dan analisis juga merupakan proses terakhir dalam rentetan tugas penelitian.
2.1.2.5 Sintesis (Synthesis)
Merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu keseluruhan yang baru.
2.1.2.6 Evaluasi (Evaluation)
Kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap materi yang berdasarkan kriteria-kriteria tertentu.
2.2 Konsep Kehamilan
2.2.1 Pengertian Kehamilan
Kehamilan merupakan sebuah proses diawali dengan keluarnya sel telur yang telah matang dari indung telur. Ketika telur yang matang itu berada pada saluran telur dan pada saat itu sperma yang masuk dan bertemu dengan sel telur maka keduanya akan menjadi menyatu membentuk sel yang akan tumbuh. (Lukman, 2004)
Hamil adalah mengandung janin dalam rahim karena sel telur dibuahi oleh spermatozoa. (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2002)
Kehamilan trimester pertama yaitu kehamilan yang berusia dari 0- 3 bulan (Prawirohardjo, 2002).
2.2.2 Pembagian Trimester Pada Kehamilan
Berdasarkan Prawirohardjo tahun 2002, kehamilan dibagi menjadi tiga trimester yaitu :
2.2.2.1 Trimester Pertama
Trimester pertama yaitu kehamilan yang dimulai pada usia kehamilan 0-3 bulan.
2.2.2.2 Trimester Kedua
Trimester kedua yaitu kehamilan yang dimulai pada usia kehamilan 4-6 bulan.
2.2.2.3 Trimester Ketiga
Trimester ketiga yaitu kehamilan yang dimulai pada usia kehamilan 7-9 bulan lebih.
2.3 Konsep Abortus
2.3.1 Pengertian Abortus
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup diluar kandungan (Prawirohardjo, 2002).
2.3.2 Jenis-jenis Abortus
Jenis-jenis abortus menurut Prawirohardjo tahun 2002 yaitu :
2.3.2.1 Abortus Spontan
Abortus spontan adalah pengehentian kehamilan sebelum kehamilan mencapai viabilitas (usia kehamilan 22 minggu). Tahap-tahap abortus spontan meliputi :
1. Abortus imminens yaitu terjadi perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan. Dalam kondisi ini kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan.
2. Abortus insipient yaitu perdarahan ringan hingga sedang pada kehamilan muda dimana hasil konsepsi masih berada di rahim. Kondisi ini menunjukkan proses abortus sedang berlangsung dan akan beranjut menjadi abortus inkomplit atau komplit.
3. Abortus inkomplit yaitu perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari rahim.
4. Abortus komplit yaitu perdarahan pada kehamilan muda dimana seluruh hasil konsepsi telah keluar dari rahim.
2.3.2.2 Abortus infeksiosa
Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai komplikasi infeksi. Adanya penyebaran kuman atau toksin kedalam sirkulasi dan kavum peritoneum dapat menimbulkan septicemia, sepsis atau peritonitis.
2.3.2.3 Missed abortion (Retensi janin mati)
Missed abortion (retensi janin mati) yaitu perdarahan pada kehamilan muda disertai dengan hasil konsepsi yang telah mati hingga 8 minggu atau lebih. Biasanya diagnosis tidak dapat ditemukan hanya dalam satu kali pemeriksaan, melainkan memerlukan waktu pengamatan dan pemeriksaan ulang.
2.3.2.4 Abortus tidak aman (Unsafe abortion)
Abortus tidak aman (unsafe abortion) yaitu upaya untuk terminasi kehamilan muda dimana pelaksanaan tindakan tersebut tidak mempunyai cukup kehamilan dan prosedur tanda yang aman sehingga dapat membahayakan jiwa pasien.
2.3.3 Penyebab Terjadinya Abortus.
2.3.3.1 Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi.
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat. Kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil muda. Faktor-faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut :
1. Kelainan kromosom.
Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan ialah trisomi, poliploid, dan kemungkinan pula kromosom seks.
2. Lingkungan kurang sempurna.
Bila lingkungan diendometrium disekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi terganggu.
3. Pengaruh dari luar.
Radiasi, virus, obat-obatan, dan sebagainya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen (Prawirohardjo, 2002).
2.3.3.2 Kelainan pada plasenta.
Endarteritis dapat terjadi dalam villi koriales dan menyebabkan oksigenasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini biasa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun. (Prawirohardjo, 2002)
2.3.3.3 Penyakit ibu.
Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria, dan lain-lain dapat menyebabkan abortus. Toksin, bakteri, virus, atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk kejanin, sehingga menyebabkan kematian janin, dan kemudian terjadilah abortus. (Prawirohardjo, 2002)
2.3.3.4 Kelainan traktus genitalis.
Retroversion uteri, miomata uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus. Tetapi, harus diingat bahwa hanya retroversion uteri gravidi inkarserata atau mioma submukosa yang memegang peranan penting. (Prawirohardjo, 2002)
2.3.4 Klasifikasi, tanda dan gejala abortus
Menurut Prawirohardjo tahun 2002, klasifikasi, tanda dan gejala abortus yaitu :
Tabel 2.1
Diagnosis Klasifikasi Abortus
Serta Tanda dan Gejala Abortus
Uterus / Rahim Tanda dan Gejala Diagnosa
Sesuai dengan usia kehamilan - Kram perut bawah
- Uterus/rahim lunak Abortus imminens
Sedikit membesar dari normal - Limbung atau pingsan
- Nyeri perut bawah
- Nyeri goyang Porsio atau bibir rahim
- Cairan bebas intraabdomen Kehamilan ektopik yang terganggu
Lebih kecil dari usia kehamilan - Sedikit atau tanpa nyeri perut bagian bawah
- Riwayat ekspulsi hasil konsepsi Abortus komplit
Sesuai usia kehamilan - Kram atau nyeri perut bagian bawah
- Belum terjadi ekspulsi hasil konsepsi Abortus insipient
Sesuai usia kehamilan - Kram atau nyeri perut bagian bawah
- Pengeluaran sebagian hasil konsepsi Abortus inkomplit
Lunak dan lebih besar dari usia kehamilan - Mual/muntah
- Kram perut bagian bawah
- Tidak ada janin keluar jaringan seperti anggur Abortus mola
Sumber : Prawirohardjo, 2002
2.3.5 Penatalaksanaan Komplikasi Pada Abortus
Menurut Saifuddin tahun 2002, penatalaksanaan komplikasi abortus yaitu :
Tabel 2.2
Diagnosis Penatalaksanaan Komplikasi Pada Abortus
Tanda dan Gejala Komplikasi Penanganan
• Nyeri abdomen
• Nyeri lepas
• Rahim terasa lemas
• Perdarahan berkanjut
• Lemah-lesu
• Demam
• Sekret vagina berbau
• Secret dan pus dari servik
• Nyeri goyang servik Infeksi / sepsis Mulailah antiboitika sesegera mungkin sebelum melakukan aspirasi vakum manual
• Nyeri/kaku pada abdomen
• Nyeri lepas
• Distensi abdomen
• Abdomen terasa tegang dan keras
• Nyeri pada bahu
• Mual/muntah
• Demam Perlukaan uterus, vagina atau usus Lakukan laparatomi untuk memperbaiki perlukaan dan lakukan aspirasi vakum manual secara berurutan.
Sumber : Saifuddin, 2002
2.4 Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan. ( Notoatmodjo, 2005)
Variabel
Sub variabel
Keterangan :
: Yang diteliti
: Kategori yang digunakan
: Dimensi yang diteliti
Gambar 2.1 Kerangka Konsep
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian adalah kuantitatif yaitu suatu proses penelitian mulai dari merumuskan permasalahan hingga mengambil kesimpulan. Sedangkan rancangan penelitian ini bersifat deskriptif yaitu untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau fenomena (Prasetyo, 2005).
3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru tahun 2009.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan mulai dari pengajuan judul pada bulan Januari dan diperkirakan akan selesai pada bulan Juli 2009.
3.3 Populasi, Sampel dan Sampling Penelitian
3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil trimester pertama yang berkunjung ke Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Zanbar, 2005). Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari ibu hamil trimester pertama yang datang berkunjung ke Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru dengan sampel minimum yang berjumlah 30 orang, dalam statistik dianggap menuju angka jumlah banyak karena bila dibuat kurvanya akan mendekati kurva normal (Machfoedz, 2005).
Kriteria sampel yaitu seluruh ibu hamil trimester pertama yang datang berkunjung ke Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru yang bersedia menjadi responden dan bisa baca tulis.
3.3.3 Sampling
Sampling adalah mengambil sampel penelitian ini digunakan dengan cara atau teknik-teknik tertentu, sehingga sampel tersebut sedapat mungkin mewakili populasinya. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan metode Accidental sampling yaitu pengambilan sampel secara kebetulan ada di tempat penelitian (Notoatmodjo, 2005).
3.4 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah hanya satu variabel yaitu gambaran pengetahuan ibu hamil trimester pertama tentang abortus. Sedangkan yang menjadi sub variabel dalam penelitian ini adalah pengertian abortus, jenis-jenis abortus, penyebab abortus, klasifikasi abortus serta tanda dan gejala abortus, dan penatalaksanaan komplikasi pada abortus.
3.5 Defenisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Variabel Sub Variabel Defenisi Operasional Alat Ukur Skala Ukur Kategori
Pengetahuan ibu hamil trimester pertama tentang penyebab abortus Informasi atau segala sesuatu yang sudah dipahami oleh responden tentang penyebab abortus Angket Ordinal Baik > 75%
Cukup 60%-75%
Kurang < 60%
Pengertian abortus Berakhirnya kehamilan oleh akibat-akibat tertentu Angket Ordinal Baik > 75
Cukup 60%-75%
Kurang < 60%
Jenis-jenis abortus macam-macam dari abortus Angket Ordinal Baik > 75%
Cukup 60%-75%
Kurang < 60%
Penyebab abortus Hal-hal yang dapat menyebabkan abortus Angket Ordinal Baik > 75%
Cukup 60%-75%
Kurang < 60%
Klasifikasi abortus serta tanda dan gejala abortus Ciri-ciri dari abortus Angket Ordinal Baik > 75%
Cukup 60%-75%
Kurang < 60%
Penatalaksanaan komplikasi pada abortus Penanganan dari abortus Angket Ordinal Baik > 75%
Cukup 60%-75%
Kurang < 60%
3.6 Instrumen Penelitian
Dalam melakukan pengumpulan data, peneliti menggunakan alat pengumpul data dengan menggunakan angket yang berisi 20 pernyataan untuk mengukur gambaran pengetahuan ibu hamil trimester pertama tentang abortus.
3.7 Jalannya Penelitian
3.7.1 Tahap persiapan
3.7.1.1 Mengajukan judul penelitian
3.7.1.2 Melakukan studi pendahuluan
3.7.1.3 Menyusun proposal penelitian
3.7.2 Tahap pelaksanaan
3.7.2.1 Membagikan angket kepada responden yang datang berkunjung ke Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru tahun 2009.
3.7.2.2 Mengolah data dan menganalisa data yang telah didapat.
3.7.3 Tahap penyelesaian
Menyusun Karya Tulis Ilmiah, seminar hasil penelitian, dilanjutkan dengan perbaikan dan pengumpulan laporan Karya Tulis Ilmiah.
3.8 Metode Pengumpulan Data
Sumber data yang yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer adalah Tehnik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menyebarkan angket kepada responden dan dijawab langsung ditempat yang telah disepakati sebelumnya dan setelah responden mengisi kuesioner kemudian langsung dikumpulkan oleh peneliti.
3.9 Tehnik Pengolahan Data
Sebelum melakukan pengolahan data peneliti terlebih dahulu melakukan pemeriksaan pada setiap angket yang telah diisi oleh responder apakah sudah dijawab dengan lengkap sesuai dengan ketentuan. Data yang telah dikumpul dalam tahap pengumpulan data perlu diolah terlebih dahulu, tujuanya adalah untuk menyederhanakan seluruh data yang sudah terkumpul, menyajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis.
Menurut Sugiono (2005), pengolahan data dapat dilakukan dengan langkah - langkah sebagai berikut:
3.9.1 Penyuntingan Data (Editing)
Editing (pengecekan kelengkapan data) yaitu memeriksa data terlebih dahulu meliputi pengecekan data yang telah dikumpulkan. bila terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam pengumpulan data dapat diperbaiki dan dapat dilakukan pendataan ulang.
3.9.2 Pengkodean Data (Coding)
Coding adalah pemberian kode jawaban dengan angka atau dengan kode lain seperti simbol-simbol tertentu untuk setiap jawaban. Data yang telah terkumpul dicoding satu – satu mengenai jawaban dan kelengkapannya lalu dilanjutkan dengan tabulasi. Data yang telah selesai diberi kode kemudian dihitung jumlahnya sesuai dengan alternatif jawaban. jawaban responder dinilai dengan cara sebagai berikut : untuk jawaban benar diberi nilai = 1, sedangkan untuk jawaban salah diberi nilai = 0
3.9.3 Tabulasi Data (Tabulating)
Tabulasi data adalah untuk menyusun dan menghitung data yang diperoleh. Setelah data diolah kemudian disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi.
Menurut Notoatmodjo (2005), jawaban untuk semua item pertanyaan dari seluruh responden dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan
P = Persentase
F = Jumlah jawaban yang benar
N = Jumlah soal
3.10 Tehnik Analisa Data
Menurut Arikunto (2006) dalam analisa data peneliti menggunakan analisis univariat yaitu analisis data yang digunakan untuk melihat hasil perhitungan frekuensi dan presentase dari peneliti yang nantinya akan digunakan sebagai tolak ukur untuk membahas kesimpulan.
Setelah data diolah, penulis akan menganalisis data tersebut untuk menggambarkan frekuensi dan presentasenya. Hasil perhitungan karakteristik dimasukan kedalam kriteria yaitu : pengetahuan baik : > 75-100 %, pengetahuan cukup : 60-75 %, pengetahuan kurang : < 60 % (Nursalam, 2003).
Setelah didapatkan kriteria masing-masing responden, maka untuk mengetahui pengetahuan responden secara keseluruhan dimasukkan ke dalam rumus :
Responden dengan kriteria (B/C/K)
P = x 100%
Σ Responden
Keterangan :
Σ : Jumlah
B : Baik
C : Cukup
K : Kurang
3.11 Kesulitan dan Keterbatasan
3.11.1 Kesulitan Penelitian
Kesulitan dalam penelitian ini adalah sulitnya mendapatkan ibu hamil trimester pertama sehingga membutuhkan waktu yang lama dalam penelitian ini untuk mendapatkan ibu hamil trimester pertama yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini.
3.11.2 Keterbatasan Penelitian
Peneliti menyadari sepenuhnya ada keterbatasan kemampuan pengetahuan serta pengalaman penelitian dalam melakukan penelitian serta penyusunan hasil penelitian ini yang masih jauh dari sempurna.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Rumah Bersalin Taman Sari 1 merupakan salah satu Rumah Bersalin yang ada di Pekanbaru, terletak di jalan Taman Sari no. 23 Kelurahan Tangkerang Selatan Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Rumah Bersalin Taman Sari 1 mengenai gambaran pengetahuan ibu hamil trimester pertama tentang abortus dengan jumlah responden 30 orang, didapatkan hasilnya dan data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, kemudian dianalisa.
4.1.2 Data Umum
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru Tahun 2009
No Umur Frekuensi Persentase (%)
1. 17-20 Tahun 3 10
2. 21-35 Tahun 27 90
Jumlah 30 100
Sumber : Pengisian angket 2009
Berdasarkan tabel 4.1 bahwa sebagian besar berumur 21-35 tahun yaitu 27 responden (90%).
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan di Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru Tahun 2009
No Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
1. SD 2 7
2. SMP 8 26
3. SMA 15 50
4. Perguruan Tinggi 5 17
Jumlah 30 100
Sumber : Pengisian angket 2009
Berdasarkan tabel 4.2 bahwa sebagian besar berpendidikan SMA yaitu 15 responden (50%).
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru Tahun 2009
No Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)
1. PNS 4 13
2. Swasta 7 23
3. IRT 19 64
Jumlah 30 100
Sumber : Pengisian angket 2009
Berdasarkan tabel 4.3 bahwa sebagian besar pekerjaan yaitu IRT 19 responden (64%).
4.1.3 Data Khusus
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang Pengertian Abortus di Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru Tahun 2009
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.
2.
3. Baik
Cukup
Kurang 19
0
11 63,3
0
36,7
Jumlah 30 100
Sumber : Pengisian angket 2009
Berdasarkan tabel 4.4 bahwa sebagian besar pengetahuan responden tentang pengertian abortus yaitu baik 19 responden (63,3%).
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang Jenis-jenis Abortus di Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru Tahun 2009
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.
2.
3. Baik
Cukup
Kurang 9
8
13 30
26,7
43,3
Jumlah 30 100
Sumber : Pengisian angket 2009
Berdasarkan tabel 4.5 bahwa sebagian besar pengetahuan responden tentang jenis-jenis abortus yaitu kurang 13 responden (43,3%).
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang Penyebab Abortus di Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru Tahun 2009
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.
2.
3. Baik
Cukup
Kurang 10
14
6 33,3
46,7
20
Jumlah 30 100
Sumber : Pengisian angket 2009
Berdasarkan tabel 4.6 bahwa sebagian besar pengetahuan responden tentang penyebab abortus yatiu cukup 14 responden (46,7%).
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang Klasifikasi Abortus Serta Tanda Dan Gejala Abortus di Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru Tahun 2009
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.
2.
3. Baik
Cukup
Kurang 6
9
15 20
30
50
Jumlah 30 100
Sumber : Pengisian angket 2009
Berdasarkan tabel 4.7 bahwa sebagian besar pengetahuan responden tentang klasifikasi abortus serta tanda dan gejala abortus yaitu kurang 15 responden (50%).
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang Penatalaksanaan Komplikasi Pada Abortus di Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru Tahun 2009
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.
2.
3. Baik
Cukup
Kurang 5
14
11 16,7
46,7
36,7
Jumlah 30 100
Sumber : Pengisian angket 2009
Berdasarkan tabel 4.8 bahwa sebagian besar pengetahuan responden tentang penatalaksanaan komplikasi pada abortus yaitu cukup 14 responden (46,7%).
Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang Abortus di Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru Tahun 2009
No Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.
2.
3. Baik
Cukup
Kurang 8
17
5 26,7
56,7
16,7
Jumlah 30 100
Sumber : Pengisian angket 2009
Berdasarkan tabel 4.9 bahwa secara keseluruhan pengetahuan responden tentang abortus yaitu cukup 17 responden (56,7%), dan kategori kurang 5 responden (16,7%).
4.2 Pembahasan
Berdasarkan dari hasil penelitian didapatkan bahwa gambaran pengetahuan ibu hamil trimester pertama sebagian besar cukup yaitu 17 responden (56,7%) dari 30 responden. Menurut pendapat peneliti hal ini berkaitan dengan pendidikan terakhir responden sebagian besar adalah SMA yaitu 15 responden (50%). Pendidikan mempunyai peranan yang penting dalam perubahan pengetahuan dalam membentuk perilaku. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2005) yang menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi pula tingkat intelektualnya dan semakin tinggi pendidikan maka semakin besar kemampuan untuk menyerap dan menerima informasi yang diberikan.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan sebagian besar pekerjaan yaitu IRT 19 responden (64%), maka peneliti berpendapat penyebab responden jarang mendapatkan informasi karena hanya disibukkan dengan pekerjaan rumah dan mengurus anak, hanya bergaul disekitar rumah sehingga menyebabkan kurangnya informasi. Sesuai dengan pendapat Rubanyumas (2000) bahwa orang yang bekerja cenderung akan berusaha akan mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan profesinya sehingga berusaha untuk tetap mencari informasi baru.
Selain itu usia juga dapat mempengaruhi pengetahuan responden yang kurang, karena semakin bertambahnya usia seseorang semakin meningkatnya kedewasaan seseorang tersebut. Hal ini diperkuat dengan pendapat Glemen (1987) yang dikutip dari Notoatmodjo (2003).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan responden tentang abortus di Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru sebagian besar yaitu berpengetahuan cukup 17 responden (56,7%).
5.2 Saran
5.2.1 Bagi peneliti selanjutnya
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan dapat dijadikan bahan perbandingan untuk peneliti selanjutnya.
5.2.2 Bagi institusi pendidikan
Diharapkan bagi institusi pendidikan agar menambah buku referensi tentang abortus dan metodelogi penelitian sehingga dapat dipergunakan oleh mahasiswa sebagai bahan bacaan untuk menambah ilmu pengetahuan, sehingga mahasiswa dapat memberikan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan siswi tentang abortus.
5.2.3 Bagi lahan penelitian
Diharapkan agar petugas kesehatan di Rumah Bersalin Taman Sari 1 Pekanbaru lebih sering melakukan penyuluhan kepada ibu hamil trimester pertama tentang abortus.
Rabu, 08 Juli 2009
Blogumus yang Keren
Selasa, 16 Juni 2009
hepatitis
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hepatitis merupakan suatu penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme dan zat kimiawi. Salah satu mikroorganisme penyebab hepatitis yang paling sering dijumpai adalah virus hepatitis (virus hepatitis A, B, C, D, E) dan hepatitis yang paling banyak dijumpai yaitu hepatitis B. Virus ini tersebar diseluruh Dunia dan penularannya dapat melalui berbagai cara, antara lain melalui jalur oral-fekal, jarum suntik, pisau cukur, hubungan seksual, dan darah atau produk darah (Christina, 2008).
Tidak setiap orang terkena virus hepatitis akan memperlihatkan gejala, oleh karena itu tes laboratorium sangat diperlukan untuk mendukung diagnosa penyakit ini. Seseorang yang menderita virus hepatitis dapat sembuh atau berlanjut menjadi kronis bila tidak sembuh selama enam bulan, bahkan berakhir dengan kematian bila penyakit ini berkembang menjadi sirosis dan kanker hati, terutama pada infeksi hepatitis B (Christina, 2008).
Hepatitis tidak semata-mata hanya disebabkan oleh virus. Keracunan obat, dan paparan berbagai macam zat kimia seperti karbon tetraklorida, chlorpromazine, chloroform, arsen, fosfor, dan zat-zat lain yang digunakan sebagai obat dalam industri modern, bisa juga menyebabkan hepatitis. Zat-zat kimia ini mungkin saja tertelan, terhirup atau diserap melalui kulit penderita. Menetralkan suatu racun yang beredar di dalam darah adalah pekerjaan hati. Jika banyak sekali zat kimia beracun yang masuk ke dalam tubuh, hati bisa saja rusak sehingga tidak dapat lagi menetralkan racun-racun lain (Derek, 2008).
Hepatitis B adalah penyekit infeksi pada hati. Infeksi hepatitis B kronis atau jangka panjang dapat mengakibatkan kerusakan hati yang parah, seperti pergeseran hati atau sirosis dan kanker hati yang dapat mengakibatkan kematian (Derek, 2008).
Hepatitis B merupakan penyakit yang banyak ditemukan didunia dan dianggap sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang harus diselesaikan. Hal ini karena selain prevalensinya tinggi, virus hepatitis B dapat menimbulkan problema pasca akut bahkan dapat terjadi cirroshis hepatitis dan karsinoma hepatoseluler primer. Sepuluh persen dari infeksi virus hepatitis B akan menjadi kronik dan 20 % penderita hepatitis kronik ini dalam waktu 25 tahun sejak tertular akan mengalami cirroshis hepatis dan karsinoma hepatoselluler (hepatoma). Kemungkinan akan menjadi kronik lebih tinggi bila infeksi terjadi pada usia balita dimana respon imun belum berkembang secara sempurna (Aguslina, 2008).
Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organition (WHO) menyebutkan, pada tahun 2006 hingga saat ini sekitar dua milyar orang terinfeksi virus hepatitis B diseluruh Dunia dan 350 juta orang diantaranya berlanjut menjadi infeksi hepatitis B kronis. Diperkirakan 600.000 orang meninggal dunia per tahun karena penyakit hepatitis B (Sasono, 2008).
Angka kejadian infeksi hepatitis B di Indonesia diperkirakan mencapai 5-10 % dari jumlah penduduk. Angka kejadian hepatitis B paling tinggi di kawasan Timur Indonesia (Salim, 2008). Selain itu di Indonesia infeksi virus hepatitis B terjadi pada bayi dan anak, diperkirakan 25-45 % pengidap adalah karena infeksi perinatal. Hal ini berarti bahwa Indonesia termasuk daerah endemis penyakit hepatitis B dan termasuk negara yang dihimbau oleh WHO untuk melaksanakan upaya pencegahan (Imunisasi) (Aguslina, 2008).
Virus hepatitis B bisa menyerang siapa saja tanpa pandang buluh, mulai anak-anak hingga usia dewasa. Di Palembang penderita hepatitis B 68,5% adalah laki-laki dengan usia tersering adalah pada kelompok usia 11-18 tahun (28,5%) (Imelda, 2001).
Berdasarkan survei yang telah dilakukan peneliti di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru didapatkan data pasien yang terkena penyakit hepatitis B pada tahun 2006 jumlah pasien yang terkena penyakit hepatitis B yaitu 156 pasien, sedangkan tahun 2007 jumlah pasien yang terkena penyakit hepatitis B yaitu 187 pasien, dan pada tahun 2008 terjadi lagi peningkatan jumlah pasien yang terkena penyakit hepatitis B yaitu berjumlah 211 pasien (Profil RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru, 2008).
Berdasarkan data diatas dapat dilihat terjadinya peningkatan penderita hepatitis B di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru setiap tahunnya, maka peneliti tertarik untuk mengetahui apa faktor penyebab hepatitis B di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru tahun 2008.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti ingin mengambil judul “Faktor Penyebab Terjadinya Hepatitis B di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru 2008”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu ”Apakah faktor penyebab terjadinya hepatitis B di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru tahun 2008?”
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya hepatitis B di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru tahun 2008.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui jumlah persentase faktor penyebab terjadinya hepatitis B yang disebabkan oleh infeksi virus.
1.3.2.2 Untuk mengetahui jumlah persentase faktor penyebab terjadinya hepatitis B yang disebabkan oleh infeksi non-virus.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi peneliti
Memberikan pengalaman nyata dan mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh diperkuliahan terutama tentang penelitian, dan penelitian ini adalah salah satu persyaratan kelulusan D III Keperawatan.
1.4.2 Bagi pendidikan
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa AKBID / AKPER Dharma Husada Pekanbaru, dan untuk penelitian selanjutnya yang ada kaitannya dengan Karya Tulis Ilmiah ini.
1.4.3 Bagi Instansi Kesehatan
Sebagai bahan informasi tentang hepatitis khususnya tentang faktor penyebab terjadinya hepatitis B.
1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini dapat dijadikan perbandingan bagi peneliti selanjutnya terutama tentang hepatitis B.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Hepatitis
2.1.1 Pengertian Hepatitis
Hepatitis adalah istilah yang digunakan untuk berbagai kondisi dimana terjadi peradangan atau nerkosis sel-sel hati. Nerkosis adalah istilah yang digunakan bagi kematian sebagian atau semua sel didalam suatu organ atau jaringan (Ramiah, 2006).
2.1.2 Jenis-Jenis Hepatitis
Menurut Ramaiah tahun 2006, hepatitis dibagi menjadi 6 yaitu :
a. Hepatitis A
Hepatitis A adalah penyakit yang sangat menular dan virusnya ditemukan dalam tinja orang yang terinfeksi oleh hepatitis A.
b. Hepatitis B
Virus hepatitis B dapat menyebabkan baik infeksi akut maupun kronis. Virus ini biasanya disebarkan melalui darah atau produk darah dari seseorang yang terinfeksi virus hepatitis B.
c. Hepatitis C
Seperti halnya hepatitis B, hepatitis c juga menular melalui jarum suntik yang terinfeksi dan transfusi darah atau produk darah yang terinfeksi. Namun, penyakit ini jarang menular melalui kontak pribadi yang dekat atau hubungan seksual, atau kepada bayi yang baru lahir melalui ibu yang terinfeksi.
d. Hepatitis D
Hepatitis D terjadi hanya pada mereka yang terkena infeksi hepatitis B. Ini karena infeksi tersebut membutuhkan virus hepatitis B untuk bisa bertahan hidup dan menyebabkan penyakit.
e. Hepatitis E
Hepatitis E penyebaranya serupa dengan infeksi hepatitis A. Penyakit ini lebih sering menjangkiti orang dewasa ketimbang anak-anak dan lebih mungkin menyebabkan epidemi. Epidemi adalah istilah yang biasa digunakan untuk merujuk pada situasi dimana sejumlah besar orang terkena penyakit yang sama dalam wilayah gografis yang sama dan pada saat yang singkat.
2.2 Konsep Dasar Hepatitis B
2.2.1 Pengertian Hepatitis B
Hepatitis B adalah penyakit infeksi pada hati yang disebabkan virus hepatitis B (Sasono, 2008). Virus hepatitis B adalah virus Asam Deoksiribonukleat DNA yang telah dikenal dengan baik, yang ditularkan secara parenatal (tranfusi darah, jarum) atau lewat kontak oral atau seksual dan menyebabkan penyakit hati akut dan kronis (Jay, 2000).
2.2.2 Kelompok Yang Beresiko Tinggi Terkena Hepatitis B
Menurut Ramaiah tahun 2006, ada 8 kelompok orang yang beresiko tinggi terkena infeksi hepatitis B yaitu :
a. Pekerja kesehatan yang berkontak dengan darah atau cairan tubuh orang yang terkontaminasi.
b. Kaum homoseksual.
c. Orang yang melakukan kontak seksual dengan mereka yang memiliki virus hepatitis B.
d. Orang yang mengidap penyakit ginjal yang membutuhkan cuci darah.
e. Orang yang menerima transplantasi organ bagi tubuh mereka dari donor yang terinfeksi.
f. Orang yang menjalani perawatan bagi leukemia.
g. Bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi.
h. Pengguna obat yang disuntikkan kepembuluh darah, yang berbagi jarum dan alat suntik yang telah terinfeksi.
2.2.3 Faktor-faktor Penyebab Hepatitis B
a. Infeksi Virus
Infeksi virus yaitu infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B itu sendiri, yang ditularkan melalui transfusi darah atau suntikan, lewat kontak oral atau seksual, dapat juga menular pada ibu hamil yang menularkan kepada bayinya (Arkanada, 2008).
Penyebab virus hepatitis B dari ibu hamil kepada anaknya terjadi pada saat proses persalinan oleh adanya kontak atau paparan dengan secret (cairan) yang mengandung virus hepatitis B (cairan amnion, darah ibu, sekret vagina) pada kulit bayi dengan lesi dan pada mukosa (Imelda, 2001).
Infeksi virus dapat merusak hati secara langsung menyerang dan merusak sel hati yang akan menyebabkan hepatitis kronis. Hepatitis B kronis biasanya terjadi ketika mekanisme pertahanan alami tubuh tidak dapat menghancurkan semua virus hepatitis B yang memasuki tubuh. Virus-virus yang tidak dihancurkan terus berkembang biak dan menyebabkan infeksi kronis. Jenis inveksi kronis ini lebih umum terjadi dalam infeksi hepatitis B (Ramaiah, 2006).
b. Infeksi Non Virus
Infeksi non virus yaitu infeksi yang tidak disebabkan oleh virus hepatitis B, melainkan disebabkan oleh virus lain, yaitu :
1. Leptospira icterohaemorragica yaitu suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri yang disebut leptospira. Penyakit ini menyebar dari hewan yang terinfeksi kepada manusia, baik melalui kontak langsung maupun melalui air atau tanah yang terkontaminasi. Jika penyakit ini tidak juga diobati maka akan merusak sel hati dan akan menyebabkan hepatitis B (Ramaiah, 2006).
2. Toxoplasma gondii yaitu parasit kucing atau hewan peliharaan lainnya. Penyakit ini menyebabkan penyakit saraf yang disebut toxoplamosis. Parasit yang masuk ketubuh manusia yang akan merusak sel-sel darah dan masuk kehati yang akan merusak kerja hati dan menyebabkan hepatitis B (Ramaiah, 2006).
3. Herpes simpleks yaitu radang kulit disertai timbulnya vesikel-vesikel disebabkan virus, biasanya terjadi di daerah perbatasan selaput lendir dan kulit, dapat terjadi digingiva, orofaring dan konjungtiva, juga disekitar alat kelami luar. Orang yang terkena herpes simpleks sebagian besar akan terkena penyakit hepatitis B. Herpes simpleks yang tidak diobati sangat mudah dimasuki oleh kuman-kuman dan bakteri, karena cairan yang terdapat pada herpes simpleks bisa masuk kepembuluh darah dan masuk kesel hati yang akan merusak hati dan akan menyebabkan hepatitis B (Arkanda, 2008).
2.2.4 Gejala Hepatitis B
Menurut Meta tahun 2008, gejala hepatitis B biasanya muncul secara tiba-tiba seperti :
a. Penurunan nafsu makan.
b. Merasa tidak enak badan.
c. Mual-muntah.
d. Demam.
e. Kadang timbul nyeri sendi dan gatal-gatal pada kulit.
2.2.5 Pencegahan Hepatitis B
Hepatitis B dapat dicegah dengan imunisasi aktif atau pasif. Imunisasi aktif adalah istilah yang digunakan untuk proses dimana untuk membangun perlindungan jangka panjang terhadap infeksi yang baru sebagai hasil dari produksi antibodi. Antibodi ini dapat berkembang secara alami ketika seseorang menderita penyakit hepatitis B. Imunisasi pasif adalah istilah yang digunakan untuk proses dimana seseorang mengembangkan perlindungan jangka pendek terhadap infeksi yang baru. Perlindungan pasif dapat berkembang ketika :
a. Seorang bayi yang belum lahir menerima antibodi dari ibunya.
b. seorang bayi yang baru lahir menerima antibodi dari kolostrum, ASI (Air Susu Ibu) pertama yang dikeluarkan oleh ibu setelah persalinan.
c. Suatu vaksin yang mengandung antibodi yang disuntikkan kedalam tubuh (Ramaiah, 2006).
2.2.6 Penatalaksanaan Hepatitis B
a. Tirah Baring
Tirah baring yaitu beristirahat secara total, beristirahat total merupakan hal yan paling penting untuk penderita hepatitis B. Penyembuhan hepatitis B pada umumnya sangat bergantung pada kekebalan tubuh penderita. Makin baik kondisi penderita, tentu semakin mudah untuk terjadi penyembuhan.
b. Diet
Penderita hepatitis B tetap diperbolehkan diet yang mengandung lemak. Yang tidak boleh yaitu makanan / minuman yang mengandung alcohol, jamu-jamuan yang tidak jelas zat aktifnya, merokok, dan lain-lain. Tetapi pada umumnya penderita tidak bisa makan karena mual dan muntah. Jika keadaan ini tidak bisa ditolerir lagi, dokter akan memasukkan makanan melalui infus (Erik, 2002).
2.3 Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan ( Notoatmodjo, 2005).
Independen Dependen
Gambar 2.1 Kerangka Konsep
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian adalah kuantitatif yaitu suatu proses penelitian mulai dari merumuskan permasalahan hingga mengambil kesimpulan (Prasetyo, 2005). Sedangkan rancangan penelitian ini bersifat deskriptif yaitu untuk melihat faktor penyebab terjadinya hepatitis B di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru (Prasetyo, 2005).
3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009.
3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada bulan Mei - Juni tahun 2009.
3.3 Populasi, Sampel dan Sampling Penelitian
3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh status pasien yang terkena hepatits B yang didapat dari medical record di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2008 berjumlah 211 orang.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Zanbar, 2005).
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 68 orang yang didapat dari medical record di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru pada tahun 2008. Dengan menggunakan rumus :
N
n =
1 + N (d²)
211
n =
1 + 211 (0,1²)
n = 68 orang
Keterangan :
N : Besar populasi
n : Besar sampel
d : Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan (0,1)
(Notoatmodjo, 2005)
3.3.3 Sampling
Sampling adalah mengambil sampel penelitian ini digunakan dengan cara atau teknik-teknik tertentu, sehingga sampel tersebut sedapat mungkin mewakili populasinya. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan metode Quota sampling yaitu dengan cara menetapkan sejumlah anggota sampel dengan populasi manapun yang akan diambil dari medical record di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru (Notoatmodjo, 2005).
3.4 Variabel Penelitian
Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain (Notoatmodjo, 2002). Variabel pada penelitian ini yaitu variabel independen : faktor penyebab terjadinya hepatitis B, dan variabel dependen : hepatitis B.
3.5 Defenisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Variabel Penelitian Defenisi Operasional Skala Alat ukur Hasil ukur
Faktor penyebab terjadinya hepatitis B
a. Infeksi virus
b. Infeksi non virus
Suatu penyakit hepatitis B yang disebabkan oleh virus
Hepatitis B.
Suatu penyakit hepatitis B yang tidak disebabkan oleh virus Hepatitis B.
Nominal
Nominal
Daftar Checklist
Daftar Checklist
a. Ya
b. Tidak
a. Leptospira icterohaemorragica
b. Toxoplasma gondi
c. Herpes simpleks
3.6 Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu daftar checklist pencatatan rekam medik RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru tentang penyakit hepatitis B pada pasien yang terkena penyakit hepatitis B.
3.7 Metode Pengumpulan Data
Sumber data yang digunakan yaitu data sekunder, data sekunder adalah data yang diperoleh dari medical record pasien yang terkena penyakit hepatitis B di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru tahun 2008.
3.8 Tehnik Pengolahan Data
Menurut Sugiono (2005), pengolahan data dapat dilakukan dengan langkah - langkah sebagai berikut:
3.8.1 Penyuntingan Data (Editing)
Memeriksa data terlebih dahulu meliputi pengecekkan, kelengkapan, identitas, subjek penelitian, pengecekan kelengkapan data dan mengecek melalui isian data.
3.8.2 Pengkodean Data (Coding)
Adalah setiap data yang didapat maka diberi tanda ceklis (√) dan nama pada status pasien diubah menjadi nomor sebagai status pasien.
3.8.3 Tabulasi Data (Tabulating)
Pada tahap ini peneliti merumuskan data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi sesuai dengan analisis master tabel yang telah dibuat.
3.9 Tehnik Analisa Data
Dalam analisa data penulisan menggunakan analisa univariat yaitu analisa data yang dilakukan hanya melihat hasil perhitungan dari frekuiensi serta presentase dari hasil penelitian, yang nantinya akan dipergunakan sebagai tolak ukur untuk pembahasan dan kesimpulan (Arikunto, 2006).
P = F X 100%
n
Keterangan :
P = Persentase
F = Frekuensi faktor penyebab terjadinya hepatitis B
n = Jumlah kasus hepatitis B
GAMBARAN PELAKSANAAN ASUHAN SAYANG IBU PADA PERSALINAN NORMAL
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu. Cara yang paling mudah membayangkan mengenai asuhan sayang ibu adalah dengan menanyakan pada diri kita sendiri, “seperti inikah asuhan yang ingin saya dapatkan?” atau “apakah asuhan yang seperti ini yang saya inginkan untuk keluarga saya yang sedang hamil?” (P2KS, 2007).
Asuhan sayang ibu terpusat pada ibu dan bukan pada petugas kesehatan, dan selalu melihat dahulu kecara pengobatan yang sederhana dan non interventive sebelum berpaling keteknologi (Pusdiknakes, 2003).
Persalinan adalah saat yang menegangkan dan menggugah emosi ibu dan keluarganya, malahan dapat pula menjadi saat yang menyakitkan dan menakutkan bagi ibu. Untuk meringankan kondisi tersebut, bidan harus bisa memastikan bahwa setiap ibu akan mendapatkan asuhan sayang ibu selama persalinan (JNPK-KR, 2004).
Di seluruh Negara masih banyak kekurangan tenaga kesehatan yang professional guna menolong persalinan pada setiap ibu yang hendak bersalin, sehingga ibu-ibu yang tidak mau meminta pertolongan tenaga penolong persalinan terlatih untuk memberikan perawatan selama mereka dalam proses persalinan dan menolong proses kelahiran mereka. Sebagian dari alasan mereka adalah karena penolong persalinan yang sudah terlatih tersebut tidak memperhatikan kebutuhan mereka, tradisi maupun kebutuhan pribadi mengenai bagaimana keinginan mereka saat persalinan dan kelahiran bayinya (Pusdiknakes, 2001).
Kemampuan untuk memberikan pelayanan obstetric yang bermutu dan menyeluruh didasarkan atas tinggi rendahnya angka kematian ibu dari suatu Negara. Angka kematian ibu yang masih tinggi tersebut sebenarnya masih dapat dihindari karena sebagian besar terjadi pada saat pertolongan pertama, tetapi penyelenggara kesehatan tidak sanggup untuk memberikan pelayanan (Manuaba, 2001).
Berdasarkan WHO (World Health Organization) jumlah kematian ibu sekitar 500.000 persalinan hidup. Dari jumlah kematian tersebut sebagian besar terjadi di Negara berkembang karena kekurangan fasilitas, terlambatnya pertolongan, persalinan yang ditolong oleh dukun disertai keadaan sosial ekonomi dan kegiatan masyarakat yang masih tergolong rendah, sehingga pada tahun 1978 WHO (World Health Organization) dan UNICEF (United Nation Children Fund) melakukan pertemuan di Unisovyet dan mencetuskan “Idea Primary Health Care” sebagai landasan pelayanan kebidanan yang dapat dijangkau masyarakat dan disesuaikan dengan kemampuan setiap Negara untuk menyelenggarakan (Manuaba, 2001).
Laporan Pembangunan Manusia tahun 2000 menyebutkan angka kematian ibu di Malaysia jauh di bawah Indonesia yaitu 41 per 100 ribu kelahiran hidup, Singapura 6 per 100 ribu kelahiran hidup, Thailand 44 per 100 ribu kelahiran hidup, dan Filiphina 170 per 100 ribu kelahiran hidup. Padahal, tahun 2000 itu angka kematian ibu masih berkisar diangka 307 per 100 ribu kelahiran hidup. Bahkan Indonesia kalah dibandingkan Vietnam, Negara yang belum lama merdeka, yang memiliki angka kematian ibu 160 per 100 ribu kelahiran hidup (Hidayatun, 2008).
Kematian ibu melahirkan masih menjadi persoalan yang cukup pelik di Indonesia. Data dari BPS (Badan Pusat Statistik) merupakan sebesar 262 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2005. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2002-2003, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup. Depkes menargetkan pada tahun 2009 AKI menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup (Hidayatun, 2008).
Pada tahun 2005 AKI di Pekanbaru berjumlah 11 per 19.657 persalinan hidup, yang mana pada tahun 2006 AKI meningkat menjadi 17 per 20.210 persalinan hidup. Ini menunjukkan derajat kesehatan ibu selama hamil dan melahirkan masih memerlukan perhatian dan penanganan yang lebih baik (Profil Dinkes, 2006).
Berbagai hasil penelitian mengemukakan bahwa standar pelayanan antenatal sangat bermanfaat dalam deteksi dini resiko yang akan terjadi selama kehamilan, persalinan maupun nifas. Serta hasil observasi menunjukkan bahwa pelayanan kebidanan yang diberikan oleh bidan sering tidak ditepat dan bidan yang masih kurang pengalamannya dalam pelayanan kebidanan. Bidan memegang peranan penting dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan kesehatan dan pengertian masyarakat melalui konsepsi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative, sehingga diagnosa dini dapat ditegakkan untuk menurunkan AKI (Manuaba, 2001).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti ingin meninjau pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal. Untuk itu peneliti memilih dan menetapkan judul “Gambaran Pelaksanaan Asuhan Sayang Ibu Pada Persalinan Normal di Ruangan Camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti berkeinginan untuk meneliti bagaimana pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2009.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui persentase gambaran pelaksanaan asuhan sayang ibu dalam proses persalinan.
1.3.2.2 Untuk mengetahui persentase gambaran pelaksanaan asuhan sayang ibu dan bayi pada masa pascapersalinan.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti dalam menerapkan ilmu yang didapat selama perkuliahan, terutama tentang asuhan sayang ibu pada persalinan.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini nantinya dapat berguna untuk menambah pengetahuan bagi mahasiswa dan sebagai pedoman untuk penelitian selanjutnya khususnya mengenai asuhan sayang ibu pada persalinan normal.
1.4.3 Bagi Tempat Penelitian
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi masukan dan sumbangan dalam meningkatkan pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal khususnya di ruangan Camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Kehamilan
2.1.1 Pengertian Kehamilan
Kehamilan merupakan sebuah proses diawali dengan keluarnya sel telur yang telah matang dari indung telur. Ketika telur yang matang itu berada pada saluran telur dan pada saat itu sperma yang masuk dan bertemu dengan sel telur maka keduanya akan menjadi menyatu membentuk sel yang akan tumbuh (Lukman, 2004).
Hamil adalah mengandung janin dalam rahim karena sel telur dibuahi oleh spermatozoa (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2002).
Ibu hamil merupakan wanita yang mengandung janin dalam rahim karena sel telur dibuahi oleh spermatozoa (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2002).
2.2 Konsep Dasar Asuhan Sayang Ibu Pada Persalinan
2.2.1 Asuhan Sayang Ibu
Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu. Beberapa prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengikut sertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Perhatian dan dukungan kepada ibu selama proses persalinan akan mendapatkan rasa aman dan keluaran yang lebih baik (Febrianti, 2006).
2.2.2 Asuhan Sayang Ibu Dalam Proses Persalinan
Menurut Pusat Pelatihan Klinik Sekunder (P2KS) Propinsi Riau tahun 2007 asuhan sayang ibu dalam proses persalinan yaitu:
a. Memanggil ibu sesuai namanya, menghargai dan memperlakukannya sesuai martabatnya.
b. Menjelaskan asuhan dan perawatan yang akan diberikan pada ibu sebelum memulai asuhan tersebut.
c. Menjelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya.
d. Menganjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut atau khawatir.
e. Mendengarkan dan menanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu.
f. Memberikan dukungan, membesarkan hatinya dan menentramkan perasaan ibu beserta anggota keluarga yang lain.
g. Menganjurkan ibu untuk ditemani suaminya dan/atau anggota keluarga yang lain selama persalinan dan kelahiran bayinya.
h. Mengajari suami dan anggota keluarga mengenai cara memperhatikan dan mendukung ibu selama persalinan dan kelahiran bayinya.
i. Melakukan pencegahan infeksi yang baik secara konsisten.
j. Menghargai privasi ibu.
k. Menganjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan dan kelahiran bayinya.
l. Menganjurkan ibu untuk minum cairan dan makan-makanan ringan bila ibu menginginkan.
m. Menghargai dan membolehkan praktek-praktek tradisional yang tidak memberi pengaruh yang merugikan.
n. Menghindari tindakan berlebihan dan mungkin membahayakan (episiotomy, pencukuran, dan klisma).
o. Menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya setelah lahir.
p. Membantu memulai pemberian ASI dalam 1 jam pertama setelah kelahiran bayi.
q. Menyiapkan rencana rujukan (bila perlu).
r. Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik, bahan-bahan, perlengkapan dan obat-obatan yang diperlukan.
2.2.3 Asuhan Sayang Ibu dan Bayi pada Masa Pascapersalinan
a. Menganjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat gabung).
b. Membantu ibu untuk mulai membiasakan menyusui dan menganjurkan pemberian ASI sesuai permintaan.
c. Mengajarkan ibu dan keluarganya mengenai nutrisi dan istirahat yang cukup setelah melahirkan.
d. Menganjurkan suami dan anggota keluarga untuk memeluk bayi dan mensukuri kelahiran bayinya.
e. Mengajarkan ibu dan anggota keluarga tentang bahaya dan tanda-tanda bahaya yang dapat diamati dan anjurkan mereka untuk mencari pertolongan jika terdapat masalah atau kekhawatiran.
2.2.4 Asuhan Persalinan Normal
2.2.4.1 Pengertian Persalinan Normal
Persalinan normal yaitu suatu proses pengeluaran buah kehamilan cukup bulan yang mencakup pengeluaran bayi, plasenta dan selaput ketuban, dengan presentasi kepala (posisi belakang kepala), dari rahim ibu melalui jalan lahir (baik jalan lahir lunak maupun kasar), dengan tenaga ibu sendiri (Luwzee, 2009).
2.2.4.2 Tujuan Asuhan Persalinan Normal
Tujuan persalinan normal yaitu menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui upaya terintegrasi dan lengkap tetapi dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan (Pusat Pelatihan Klinik Sekunder, 2007).
2.2.4.3 5 dasar asuhan persalinan yang bersih dan aman yaitu :
a. Membuat keputusan klinik adalah proses pemecahan masalah yang akan digunakan untuk merencanakan arahan bagi ibu dan bayi baru lahir.
b. Asuhan sayang ibu dan sayang bayi adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu.
c. Pencegahan infeksi yaitu untuk melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga, penolong persalinan dan tenaga kesehatan lainnya dengan mengurangi infeksi karena bakteri, virus dan jamur.
d. Pencatatan (rekam medis) yaitu semua asuhan yang diberikan kepada ibu dan bayi nya.
e. Rujukan.
2.4 KERANGKA KONSEP
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan. ( Notoatmodjo, 2005)
Keterangan :
: Variabel
: Sub variabel
Gambar 2.1 Kerangka Konsep
2.5 Defenisi Operasional
Tabel 2.1 Definisi Operasional
Variabel Sub Variabel Defenisi Operasional Alat Ukur Skala Ukur Kategori
Gambaran pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009 Segala sesuatu hal pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009 Angket Nominal Ya
Tidak
Asuhan sayang ibu pada proses persalinan Segala sesuatu hal asuhan sayang ibu pada proses persalinan Angket Nominal Ya
Tidak
Asuhan sayang ibu pada masa postpartum Segala sesuatu hal asuhan sayang ibu pada masa postpartum Angket Nominal Ya
Tidak
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian adalah kuantitatif dan rancangan penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan data primer untuk mengetahui pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009.
3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan bulan Juni 2009.
3.3 Populasi, Sampel dan Sampling
3.3.1 Populasi
Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu-ibu yang menjalani persalinan di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Zanbar, 2005). Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagian dari ibu-ibu yang melakukan persalinan di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru dengan sampel minimum yang berjumlah 30 orang, dalam statistik dianggap menuju angka jumlah banyak karena bila dibuat kurvanya akan mendekati kurva normal (Machfoedz, 2005).
3.3.3 Sampling
Sampling adalah mengambil sampel penelitian ini digunakan dengan cara atau teknik-teknik tertentu, sehingga sampel tersebut sedapat mungkin mewakili populasinya. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan metode Accidental sampling yaitu pengambilan sampel secara kebetulan ada di tempat penelitian (Notoatmodjo, 2005).
3.4 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah hanya satu variabel yaitu gambaran pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tahun 2009. Sedangkan yang menjadi sub variabel dalam penelitian ini adalah asuhan sayang ibu dalam proses persalinan dan asuhan sayang ibu pada masa postpartum.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Sumber data yang yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer adalah Tehnik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menggunakan angket dan diisi langsung oleh peneliti sambil melihat pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal.
3.6 Instrumen Penelitian
Dalam melakukan pengumpulan data, peneliti menggunakan alat pengumpul data dengan menggunakan angket yang digunakan untuk mengukur gambaran pelaksanaan asuhan sayang ibu pada persalinan normal di ruangan camar II RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Peneliti menggunakan kuesioner yang berisi 25 pernyataan untuk mengukur pengetahuan ibu hamil tentang asuhan sayang ibu pada persalinan normal dengan pilihan jawaban benar dan salah.
3.7 Tehnik Pengolahan Data
Sebelum melakukan pengolahan data peneliti terlebih dahulu melakukan pemeriksaan pada setiap kuisioner yang telah diisi oleh responder apakah sudah dijawab dengan lengkap sesuai dengan ketentuan. Data yang telah dikumpul dalam tahap pengumpulan data perlu diolah terlebih dahulu, tujuanya adalah untuk menyederhanakan seluruh data yang sudah terkumpul, menyajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis.
Menurut Sugiono (2005), pengolahan data dapat dilakukan dengan langkah - langkah sebagai berikut:
3.7.1 Penyuntingan Data (Editing)
Editing (pengecekan kelengkapan data) yaitu memeriksa data terlebih dahulu meliputi pengecekan data yang telah dikumpulkan. bila terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam pengumpulan data dapat diperbaiki dan dapat dilakukan pendataan ulang.
3.7.2 Pengkodean Data (Coding)
Coding adalah pemberian kode jawaban dengan angka atau dengan kode lain seperti simbol-simbol tertentu untuk setiap jawaban. Data yang telah terkumpul dicoding satu – satu mengenai jawaban dan kelengkapannya lalu dilanjutkan dengan tabulasi.
3.7.3 Tabulasi Data (Tabulating)
Tabulasi data adalah untuk menyusun dan menghitung data yang diperoleh. Setelah data diolah kemudian disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Data yang telah selesai kemudian dihitung jumlahnya sesuai dengan alternatif jawaban. Jawaban dinilai dengan cara sebagai berikut: untuk jawaban yang ya diberi nilai = 1, sedangkan untuk jawaban yang tidak diberi nilai = 0
3.8 Tehnik Analisa Data
Menurut Arikunto (2006) dalam analisa data peneliti menggunakan analisis univariat yaitu analisis data yang digunakan untuk melihat hasil perhitungan frekuensi dan presentase dari peneliti yang nantinya akan digunakan sebagai tolak ukur untuk membahas kesimpulan.
Menurut Notoatmodjo (2005), jawaban untuk semua item pertanyaan dari seluruh responder dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan
P = Persentase
F = Jumlah jawaban yang benar
N = Jumlah soal
(Nursalam, 2003)
Rabu, 13 Mei 2009
Asfiksia neonatus
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Asfiksia neonatus akan terjadi apabila saat lahir mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluran CO2. Pada keadaan ini biasanya bayi tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Sampai sekarang asfiksia masih merupakan salah satu penyebab pentiong morbilitas dan mortalitas perinatal. Banyak kelainan pada masa neonatus mempunyai kaitan dengan faktor asfiksia ini.
Pada setiap penderita asfiksia didapatkan sindrom gangguan napas. Aspirasi melonium, infeksi dan kejang merupakan penyakit, yang sering terjadi pasca asfiksia. Pada penderita asfiksia dapat pula ditemukan penyakit lain yaitu gangguan fungsi jantung, renjatan neonatus, gangguan fungsi ginjal, atau kelainan gastrointestinal. Kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran telah benyak berperan dalam menurunkan angka kematian dan kesakitan neonatus.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan, terutama pada anak yang menderita asfiksia.
2. Tujuan Khusus
a. Agar mahasiswa dapat memahami pengertian tentang asfiksia.
b. Agar mahasiswa dapat mamahami asuhan keperawatan asfiksia dengan benar.
c. Agar mahasiswa dapat memahami tanda dan gejala asfiksia.
d. Agar mahasiswa dapat penularan / proses terjadinya asfiksia pada neonatus.
e. Pelaksanaan pengkajian terhadap klien dengan asfiksia neofatus.
f. Menetapkan diagnosa keperawatan pada klien dengan asfiksia neonatus.
g. Membuat rencana keperawatan pada klien dengan asfiksia.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar
1. Pengertian
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur dalam 1 menit setelah lahir.
2. Etiologi
- Biasanya terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu dengan komplikasi, misalnya DM, PEB, eritroblastosis fetalis, kelahiran kurang bulan
- Terjadi apabila saat lahir bayi mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga kekurangan persediaan O2 dan kesulitab pengeluaran CO2.
- Faktor yang terdapat pada janin / bayi karena sperti adanya gangguan aliran tali pusat yang menumbung, tali pusat melilit leher.
- Terjadinya depresi pernapasan bayi karena obat / analgetik yang diberikan pada ibu.
- Adanya gangguan tumbuh kembang intrauterin dan kelainan bawaan (aplasia paru, atresia saluran napas).
3. Tanda dan Gejala
- Distes pernafasan (Apnu / megap-megap)
- Refleks / respons bayi lemah
- Tonus otot menurun
- Warna kulit biru / pucat
- Berdasarkan skor apgar menit pertama, asfiksia pada neonatus dibagi menjadi :
· Asfiksia ringan : Skor apgar 4 – 6
· Asfiksia berat : Skor apgar 1 – 3
4. Penatalaksanaan
- Resultasi dengan langkah mengikuti ABC
A : Pertahankan jalan napas bebas, jika perlu dengan intubasi endotrakeal.
B : Bangkitkan napas spontan dengan stimulasi taksil dan tekanan positif menggunakan bag and mask atau lewat pipa endotrakeal.
C : Pertahankan sirkulasi jika perlu dengan kompresi dada dan obat-obatan
- Pada asfiksia ringan, berikan bantuan napas dengan oksigen 100% melalui bag and mask selama 15 – 30 detik.
- Pada asfiksia berat dapat mencetuskan syok kardiogenik. Pada keadaan ini diberikan dopamin per infus 5 – 20 mg/KgBB/mnt
- Bila terdapat riwayat pemberian analgesik narkotik pada ibu hamil, berikan narcan 0,1 mg/KgBB subkutan/ intramuskular/ intravena/ melalui pipa endotrakeal.
5. Komplikasi
Edema otak, perdarahan otak, anusia dan oliguria, hiperbilirubinumia, enterokolitis, nekrotikans, kejang, koma. Tindakan bag and mask berlebihan dapat menyebabkan pneumotoraks.
6. Prognosis
- Asfiksia Ringan : Tergantung pada kecepatan penatalaksanaan
- Asfikisia Berat : Dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama kelainan saraf.
Asfiksia dengan PH 6,9 dapat menyababkan kejang sampai koma dan kelainan neurologis permanen, misalnya retardasi mental.
7. Pemeriksaan Penunjang
· Laboratorium
Biasanya ditemukan menurunya kadar hematokrit dan peninggian trombosit akibat hiperaktivitas sumsum tuklang.
· Fungsi Lumbal
Untuk menunjukan adanyan cairan spinal yang bercampur darah atau xantokrom disertai dengan peninggian jumlah sel darah merah dan protein, serta penurunan glukosa.
· USG
Untuk memantau berbagai perubahan yang terjadi akibat perdarahan.
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
- Identitas klien / bayi dan keluarga
- Riwayat kehamilan ibu dan persalinan ibu
- Pengukuran hasil nilai apgar score
- Bila nilainya 0 – 3 asfiksia berat, bila nilainya 4 – 6 asfiksia ringan
- Pengkajian dasar data neonatus
1) Sirkulasi
- Nadi apical mungkin cepat/tidak dan teratur/tidak.
- Murmur jantung yang dapat didengar.
2) Neurosensori
- Tubuh panjang, kurus, lemas dengan perut agak buncit.
- Ukuran kepala besar dalam hubungan dengan tubuh, sutura mungkin mudah digerakkan, fontanel mungkin besar.
- Reflek tergantung pada usia gestasi.
3) Pernapasan
- Nilai apgar mungkin rendah
- Pernapasan mungkin dangkal, tidak teratur
- Mengorok, pernapasan cuping hidung, retrakasi suprasternal
- Adanya bunyi mengi selama fase inspirasi dan ekspirasi
- Warna kulit
4) Keamanan
- Suhu berfluktuasi dengan mudah
- Menangis mungkin lemah
- Menggunakan otot-otot bantu napas
5) Makanan / Cairan
Berat badan kurang dari 2500 gr
2. Diagnosa Keperawatan
- Pola napas tidak efektif
- Kerusakan pertukaran gas
3. Intervensi Keperawatan
1) Pola Napas Tidak Efektif
- Penghisapan selang endotrakeal sebelum pemberian surfaktan untuk memastika bahwa jalan napas bersih
- Hindari penghisapan sedikitnya 1 jam setelah pemberian surfaktan untuk meningkatkan absorpsi ke dalam alvelolar
- Observasi peningkatan pengembangan dada setelah pemberian surfaktan.
- Turunkan pengaturan, ventilator, khususnya tekanan inspirsi puncak dan oksigen untuk mencegah hipoksemia dan distensi pau yang berlebihan.
- Tinjau ulang riwayat ibu terhadap obat-obatan yag dapat memperberat depresi pernafasan pada bayi
2) Kerusakan Pertukaran Gas
- Pantau masukan dan haluasan cairan ; timbang berat badan sesuai indikasi
- Tingkatkan istirahat minimal rangsangan dan penggunaan energi
- Pantau jumlah pemberian oksigen dan durasi pemberian
- Berikan makanan dengan selang nasogastrik / orgastrik sebagai pengganti pemberian makan dnegan ASI bila tepat.
- Observasi tanda dan lokasi sianosis.
4. Evaluasi
- Meningkatkan fungsi pernapasan optimal
- Mencegah / menurunkan resiko terhadap potesial komplikasi
- Kerusakan pertukaran gas tidak terjadi
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur dalam 1 menit setelah lahir. Etiologi asfiksia yaitu biasanya terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu dengan komplikasi, misalnya DM, PEB, eritroblastosis fetalis, kelahiran kurang bulan. Terjadi apabila saat lahir bayi mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga kekurangan persediaan O2 dan kesulitab pengeluaran CO2. Tanda dan gejala yaitu Asfiksia ringan : Skor apgar 4 – 6,Asfiksia berat : Skor apgar 1 – 3.
B. Saran
1. Mahasiswa bisa paham dan mengerti apa itu asfiksia.
2. Mahasiswa bisa memahami dan melaksanakan tindakan segera pada bayi yang terkena asfiksia.
3. Mahasiswa juga harus bisa melakukan asuhan keperawatan kepada bayi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Arif, Mansjoer, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III Jakarta FKUI.
Doengoes, Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi III EGC : Jakarta.
Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi. 8 EGC, Jakarta.
Markum. AN. 1991. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jilid I BCS. IKA Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
Wong. Donna L. 2004. Pedoman Kilinis Keperawatan Pediktif. EGC. Jakarta.
| |

